Self-Efficacy (Keyakinan Diri Seseorang atas Kemampuan Dirinya)

Self-Efficacy

 

Keyakinan individu bahwa dirinya mampu meraih yang diinginkan, seperti penguasaan akan suatu keterampilan baru atau kemampuan mencapai suatu tujuan atau mimpi (cita-cita) dalam istilah psikologi disebut dengan self-efficacy. Jika individu mempunyai keyakinan bahwa ia mampu untuk melakukan sesuatu, mewujudkan mimpi-mimpinya, maka hal tersebut dapat meningkatkan dorongan individu tersebut untuk terus berusaha mewujudkan dan merealisasikan apa yang menjadi harapan dan mimpinya itu dengan baik.

 

Lalu, bagaimana caranya untuk membentuk self-efficacy dalam diri kita?

Berdasarkan apa yang saya pelajari dan pengalaman yang saya rasakan, di bawah ini adalah beberapa faktor yang bisa membentuk, menaikkan dan menurunkan self-efficacy kita.

1. Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu ini sangat mempengaruhi keyakinan diri kita. Misalnya, pada saat kalian kuliah, lalu diberi tugas yang sulit oleh dosen. Kira-kira apa yang akan kita lakukan? Mencoba mengerjakan tugas tersebut sebaik-baiknya dan diapresiasi oleh dosen tersebut? Atau mengerjakannya dengan asal saja atau tidak memberikan yang terbaik?

 

Jika kita mengerjakan dengan sebaik mungkin, dan akhirnya dipuji oleh dosen, pastinya kita akan senang, bangga dan bersyukur. Nah pengalaman seperti itu bisa memperkuat keyakinan diri kita untuk kedepannya.

 

Tapi jika kita pernah gagal melakukan sesuatu, lalu orang lain menyalahkan kita dan akhirnya kita terbawa dengan perasaan bersalah tersebut, maka bisa jadi kita akan merasa “rendah diri”. Jadi jika kita gagal, langkah pertama yang kita lakukan adalah evaluasi diri dari kegagalan dan mencoba bangkit lagi untuk memperbaiki apa yang kurang dari proses evaluasi diri tersebut.

2. Mindset Positif & Self-Driving Mentality

Saya percaya bahwa saya adalah apa yang saya pikirkan. Begitu juga kita semua. Jika kita berpikiran positif, maka perilaku kita juga positif. Sebagai contoh, saat kita melihat teman sekelas kita jago banget di bidang Matematika, lalu kita memiliki pemikiran atau mindset seperti ini:

“wah saya juga bisa nih jago kayak dia, kan kita sama-sama belajar, makannya juga sama, sepertinya saya harus coba usaha lebih keras lagi dan belajar banyak dari dia bagaimana bisa jago di bidang Matematika”.

 

Perbandingan diri kita dengan orang lain itu bisa menaikkan keyakinan atau memotivasi diri, ataupun sebaliknya. Jika kita melihat orang lain yang kebetulan posisinya “di atas” diri kita, lalu hal tersebut membuat diri kita lebih bersemangat untuk menjadi lebih baik lagi, maka itu merupakan hal bagus dan positif. Sebaliknya, jika kita merasa iri, dengki, terus tidak mau kalah maka hal tersebut membuat diri kita menjadi lebih negatif. Dalam kondisi tersebut, kita bukannya fokus untuk memperbaiki diri, justru fokus untuk melihat orang lain.

 

Self-driving adalah mental dimana kita punya kuasa penuh dan kendali atas diri kita. Orang dengan self-driving yang bagus memiliki dorongan dan keinginan kuat untuk terus maju walaupun banyak tantangan yang akan dihadapi. Keberhasilan diri kita, kita punya andil besar untuk menentukannya. Dalam istilah psikologi ada istilah “locus of control internal” atau pusat kendali internal. Orang yang memiliki locus of control internal ini akan cenderung melihat factor penentu kesuksesan dan kegalalan yang dia alami adalah dirinya sendiri. Ketika dia gagal, dia tidak menyalahkan faktor di luar dirinya tetapi dia akan melakukan evaluasi diri terlebih dahulu. Misalnya, ketika kita terlambat datang ke sekolah atau ke kantor dimana saat itu kondisi sedang hujan. Orang-orang dengan locus of control internal akan mencoba melihat dirinya sendiri, melakukan evaluasi diri. Dia akan menyadari bahwa factor telatnya mungkin karena dia kurang pagi berangkatnya, tidak memilih rute yang efektif atau tidak macet dan seterusnya. Sedangkan orang dengan locus of control external akan cenderung menyalahkan faktor di luar dirinya ketika dia telat dalam kondisi seperti itu. Misalnya dia akan beralasan karena di luar hujan, macet, tidak ada transportasi online, dan lain sebagainya.

3. Kemampuan mengelola emosi

Kemampuan diri untuk mengelola emosi yang dirasakan (bahagia, sedih, kesal, jengkel, cinta, malu, cemburu, takut, benci) juga berpengaruh kepada self-efficacy diri kita. Misalnya kita sedang sedih atau kesal. Jika kita terbawa dengan emosi tersebut dan akhirnya membuat kita menjadi tidak objektif dalam menyikapi sesuatu atau mengambil keputusan. Hal tersebut dikarenakan emosi kesal dan sedih yang kita rasakan. Jadi jangan biarkan emosi negatif tersebut terus-terusan ada dalam diri kita.

 

Apakah teman-teman merasa malu ketika diminta berbicara di depan banyak orang? Lalu akhirnya membuat teman-teman tidak berani mencoba karena rasa malu atau ragu-tagu yang dirasakan jauh lebih kuat dibandingkan keyakinan diri bahwa kita bisa untuk mulai menantang dan mencoba?

 

Jadi kita perlu untuk mengelola emosi yang kita rasakan agar kita tetap positif, optimis dan yakin untuk terus berusaha dan belajar.

4. Kemampuan berespon atas orang lain dan lingkungan

Teman-teman pasti pernah punya pengalaman diberi penilaian oleh orang lain seperti contoh di bawah ini:

 

“Dasar kamu, pasti kamu gak akan bisa untuk melakukan itu?”

“Kamu pasti gak akan pernah sukses!”

“Kamu itu bodoh, gak akanlah bisa menang lomba itu!”

 

Apakah teman-teman pernah mengalami hal tersebut?

Terus bagaimana teman-teman menyikapinya? Apakah malah meng-iya-kan kata-kata itu?

 

“iya sih saya memang bodoh”

 

Atau malah teman-teman semakin yakin dan semangat untuk membuktikan bahwa teman-teman itu bisa dan ingin membuktikan hal tersebut?

 

Cara kita menyikapi sesuatu juga berpengaruh terhadap keyakinan diri kita sendiri. Jadi, cobalah menyikapi ucapan atau perilaku orang lain apapun itu dengan hal yang positif.

 

 

Nah, yuk kita mulai hari ini mencoba melatih dan menaikkan self-efficacy diri kita! Yakini, Imani dan Amini bahwa kita mampu, kita lebih kuat dari yang kita bayangkan.

 

Salam Pengembangan!

Suhariyanto Putra

 

 


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *