Are You the Real Leaders of Your Team?

IMG-20180207-WA0009-01

“Predikat sebagai seorang Leaders yang sesungguhnya, bukan datang dari diri Anda sendiri atau posisi yang Anda punya. Melainkan datang dari mereka yang mengenal dan merasakan Kepemimpinan diri Anda”

Kalimat di atas adalah salah satu kalimat favorit, yang selalu saya bagikan di setiap training Leadership yang saya bawakan. Kita bisa menyampaikan kepada semua orang bahwa kita punya jabatan, punya segudang pengalaman, punya segudang prestasi, tetapi tidak bisa hanya berhenti sampai di situ. Tugas terbesar kita sebagai manusia atau Leaders adalah membuktikan sehingga orang yang mengenal kita atau yang kita pimpin akan meng-amini hal tersebut dan menyatakan dengan tegas “Yes, You’re the Real Leaders!!”

Lalu, apakah Leadership itu?

Kemampuan kepemimpinan seseorang memang tidak bisa dijelaskan dengan satu kalimat saja karena kepemimpinan sendiri sangatlah kompleks. Dalam kacamata saya, Leadership sendiri merupakan seni untuk memimpin diri sendiri, mengenal orang lain, menggerakkan oranglain untuk sebuah cita-cita bersama. Leadership adalah gabungan antara karakter diri kita (personal leadership skill) & professional leadership Skill (Keterampilan yang dibutuhkan dalam menjalankan sebuah peran professional) yang ditunjukkan secara konsisten untuk menggerakkan hati, memberikan pengaruh positif serta mendapatkan komitmen team dalam mencapai tujuan bersama.

Leaders tidak hanya fokus pada diri sendiri, karena Leadership sangat dekat dengan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain serta bagaimana memimpin orang lain. Jika hanya tentang diri sendiri, itu dinamakan self-leadership (bagaimana memimpin diri sendiri). Seorang Leaders yang baik, harus selesai dengan self-leadership-nya. Artinya mereka sudah tahu siapa dirinya, tahu kekuatan dan kelemahannya, tahu bagaimana melakukan intervensi terhadap kekurangan tersebut serta memaksimalkan potensinya, sudah bisa mengelola dirinya sendiri.

Dalam istilah psikologi, konsep diri adalah pandangan, sikap, pemahaman akan diri sendiri. Siapa diri kita? Jika kita bisa mendefinisikan hal tersebut, paling tidak kita sudah mengetahui “siapa sejatinya diri kita sendiri”. Dalam terminology Leadership. Self-Leadership sangatlah penting karena berhubungan dengan kematangan diri. Anda bisa bayangkan, jika pemimpin belum matang, bagaimana mereka bisa memimpin orang lain jika mereka belum memahami dirinya sendiri.

Jika kita sudah bisa memimpin diri sendiri, maka kita perlu belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Seni Berhubungan dengan orang lain perlu banyak strategi karena setiap orang adalah unik dengan potensi yang melekat dalam dirinya. Kita tidak bisa menggunakan satu cara untuk semua orang. Perlu adanya penyesuaikan serta strategi tersendiri.

Manusia sangatlah dinamis dimana memiliki banyak unsur di dalamnya seperti aspirasi, kepribadian, ketertarikan, value, prinsip, dan banyak hal yang lainnya yang harus dipahami oleh seorang Leaders untuk bisa mendapatkan komitmen dari masing-masing teamnya. John C Maxwell mengatakan bahwa kita harus “mencintai” orang lain jika kita ingin memimpin orang tersebut dengan baik. Jika kita tidak mau untuk membuka diri, berusaha dekat dengan team kita, maka kita hanya akan menjadi Leaders yang fokus pada diri sendiri saja. Kenapa begitu? Menjadi Leaders butuh orang lain atau team yang kita pimpin. Seperti halnya kalimat pertama di atas, predikat Leaders sesungguhnya bukan hanya dari posisi yang kita punya, melainkan datang dari team yang merasakan kepemimpinan kita. Jika kita tidak punya team, bagaimana Anda tahu seberapa bagus jiwa kepemimpinan kita dalam memimpin orang lain.

Lalu bagaimana caranya agar kita menjadi Leaders yang sesungguhnya?

Banyak hal yang perlu kita lakukan. Menjadi Leaders sangat berat karena bukan hanya fokus kepada diri sendiri, tetapi fokus kepada team untuk mewujudkan tujuan bersama. Sepanjang saya berkarir di dunia professional ataupun di organisasi nonprofit, saya bertemu dengan beberapa sosok Leaders yang inspiratif, memberikan pengaruh positif, memberikan dampak positif untuk diri saya ataupun organisasi atau banyak orang. Saya belajar banyak dari sosok Leaders tersebut, beberapa hal yang mereka lakukan antara lain, sebagai berikut :

 

Seorang Leaders harus punya tujuan/visi yang jelas kemana akan berjalan. Jika tidak ada kejelasan tujuan/visi maka susah untuk bergerak karena hanya mengikuti arus yang ada. Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah menentukan kemana tujuan / visi yang akan dicapai bersama. Tentukan standard atas apapun yang ingin kita capai.

Visi yang sudah dibuat hanyalah angan-angan semata jika tidak diperjelas dengan strategi serta rencana yang jelas. Mungkin team akan kesulitan untuk memahami konsep visi/tujuan besar yang akan dicapai. Akan lebih baik jika visi tersebut diturunkan menjadi strategi yang nantinya mudah dimengerti oleh teamnya. Salah satu factor yang mempengaruhi keberhasilan team adalah kejelasan visi, misi, strategi yang dikomunikasikan secara terbuka dan konsisten sehingga semua orang dalam team mengetahui, memahami, meng-amininya, berusaha mewujudkannya bersama.

2. Mengenal dan menjalin hubungan baik dengan teamnya

Visi dan strategi yang sudah ditentukan tentunya perlu untuk dijalankan. Untuk bisa menjalankan hal tersebut, tentunya kita tidak bisa sendirian. Kita butuh team kita untuk membantu mewujudkannya. Lalu bagaimana caranya? Mau tidak mau kita harus mengenal dan menjalin hubungan baik dengan team kita. Kenali diri mereka, “salami” mereka, apa motivasinya, apa kelebihannya, apa kekurangannya, apa aspirasinya, apa yang mereka rasakan, apa pendapatnya tentang visi tersebut. Rangkul mereka untuk terlibat dalam mewujudkan tujuan bersama yang sudah kita tetapkan.

Mengenal mereka dengan baik butuh banyak keterampilan, seperti keterampilan berkomunikasi, keterampilan untuk berempati, kemampuan bertanya, pengetahuan akan kepribadian, value, motivasi, psikologi, dan banyak hal lainnya. Sebelum kesana, kita perlu untuk mengenali siapa diri kita, bagaimana leadership style kita dan lain-lain. Jika kita mengenal diri sendiri dengan baik, kita akan lebih mudah untuk mengenali team atau orang lain.

3. Menunjukkan kapasitas diri baik secara personal (karakter) maupun professional

Kepemimpinan sesungguhnya dibentuk oleh karakter positif yang kita punya. Banyak diantara kita mengidolakan sosok seorang Leaders karena karakter positifnya, seperti mau mendengar, open minded, mau bertanya, perhatian, memberikan pengaruh positif, teladan, bersedia menerima masukan, terbuka, jujur dan banyak lainnya. Karakter positif tersebut harus ditunjang dengan keterampilan untuk mendukung peran sebagai seorang Leaders. Leaders harus bisa menjadi contoh dan teladan, memberikan gambaran serta solusi atas permasalahan, menunjukkan jalan yang harus dilalui, bersama-sama untuk mewujudkan visi.

Jika karakter positif dan keterampilan tidak ada atau tidak kuat. Kita akan dinilai sebagai seorang Leaders yang hanya “no action, talk only” sehingga dengan berjalannya waktu kita akan kehilangan komitmen dan kurang dihargai oleh team kita. Karakter positif dan keterampilan yang mumpuni serta kemampuan untuk menjalin hubungan akan meningkatkan kepercayaan team terhadap diri kita. Hal tersebut senada dengan apa yang Joh C Maxwell katakan “Character makes trust possible, and trust makes leadership possible”.

4. Bekerjasama dengan teamnya untuk mewujudkan tujuan atau visi bersama

Leaders tanpa visi bagai kapal tanpa nahkoda. Leaders yang punya visi tetapi tidak dijalankan hanya akan menjadi slogan saja. Visi jika dicapai sendiri tanpa melibatkan team itu namanya resolusi pribadi. Lalu bagaimana caranya agar visi tersebut bisa terwujud?

Beberapa hal yang bisa kita lakukan antara lain visi harus disosialisasikan kepada team, pastikan mereka memahami visinya, apa strategi mencapainya, apa peran mereka dalam strategi tersebut, bagaimana kita memberikan peran tersebut berdasarkan kekuatan yang ada. Jika ada masalah, bagaimana kita bersama-sama menyelesaikannya. Buktikan bahwa kita bisa menggerakkan team kita untuk mewujudkan visi misi secara bersama-sama.

5. Mengembangkan dan menyiapkan teamnya untuk menggantikan peran ataupun posisinya

Leaders yang aman adalah mereka yang terbuka dan senang hati untuk membagikan ilmunya, pengalamannya serta keterampilan yang dimilikinya kepada team-nya. Mereka tidak takut jika teamnya nanti akan menjadi pintar, berdaya, skillful, dan siap menempati posisi yang lebih tinggi. Ketika kita mengembangkan team kita, sejatinya mempermudah pekerjaan kita karena merekalah yang membantu kita mewujudkan visi misi kita.

Dalam organisasi, team adalah penentu keberhasilan pencapaian target atau visi seorang Leaders/pemimpin. Dengan mengembangkan mereka, sejatinya kita mempermudah dalam mencapai visi misi kita sendiri sebagai seorang Leaders. Team kita pasti punya aspirasi untuk maju, tentunya kita harus meng-akomodir hal tersebut. Gali dan kenali mereka lebih dalam serta kuatkan “sayap” nya agar siap “terbang kemanapun”.

6. Rayakan keberhasilan dengan menggali pembelajaran disetiap proses yang berjalan

Hal yang perlu dan harus dilakukan seorang Leaders berikutnya adalah menggali pembelajaran dari setiap proses yang sudah dilalui bersama team. Apa yang sudah bagus, apa yang perlu ditingkatkan. Hal tersebut tentunya menciptakan budaya belajar untuk menjadi lebih baik. Jika ada kekurangan, bagaimana cara memperbaikinya. Jika semua berjalan sesuai harapan, bagaimana cara mempertahankan atau bahkan meningkatkannya. Bagaimana kita mengapresiasi kinerja team karena kerja keras mereka menjadi ujung tombak keberhasilan bersama. Akui dan berikan apresiasi dengan tulus jika memang mereka bagus.

Saya sangat suka dengan konsep Choir Director sebagai analogi seperti halnya yang disampaikan Dr. Tim Elmore dalam bukunya Habitudes Growing Leaders. Seorang pemimpin orchestra akan berusaha merekrut team yang cocok dengan team yang ada, yang bisa melebur dan melengkapi team yang ada, bersedia bersinergi dengan teamnya, menciptakan harmonisasi, melatih mereka untuk bisa memberikan persembahan yang bagus, mengarahkan dan menunjukkan bagaimana sebuah harmonisasi dalam satu paket pertunjukan, diakhir pertunjukan, apresiasi dari penonton ditujukan dan diberikan kepada seluruh team paduan suara tersebut.

Seberapa baik kita memberikan pengaruh positif kepda team atau seberapa banyak kita meninggalkan legacy baik, di situlah orang lain akan melihat siapa diri kita. Kita tidak bisa hanya berbicara, namun harus menjalankannya, harus membuktikannnya dengan konsisten dan apa adanya.

Untuk melihat seberapa bagus kepemimpinan kita, cobalah untuk bertanya kepada team Anda atau sekeliling Anda tentang apa yang mereka rasakan, apa yang mereka lihat dari diri kita. Apakah kita benar-benar menjadi Leaders yang sesungguhnya? Seorang Leaders-nya manusia?

Mari kita bersama-sama memperbaiki diri untuk menjadi Leaders yang sesungguhnya. Kita selalu ingat, kepemimpinan kita akan dilihat dari seberapa besar pengaruh positif yang kita berikan. Jika kita ingin dikenal Ingin dikenal sebagai seorang Leaders sesungguhnya, mari lakukan hal-hal di atas secara ikhlas dan konsisten dalan keseharian kita.

Ingin dikenal sebagai Leaders yang seperti apakah kita? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing.

 

Salam Pengembangan!

 

Jakarta, 7 Februari 2018

Suhariyanto Putra

 

 

Keluargaku Di Desa Sekodi, Bengkalis

WhatsApp Image 2018-01-02 at 11.19.35 AM (1)

“Keluarga merupakan pondasi awal sekaligus “pelukis awal” hidup kita; berperan penting dalam pembentukan diri serta pencapain di masa depan”

Banyak hal yang aku rasakan dan dapatkan di desa ini selama bertugas menjadi Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar di tahun 2012 – Desember 2013. Bahkan sampai saat ini, ketika aku datang lagi kesana untuk kedua kalinya selepas penempatan, memori dan emosi seakan-akan mengingatkan kembali saat masih menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat di sana. Salah satu yang aku dapatkan ketika di sana adalah keluarga. Banyak sekali sosok keluarga di sana. Di tulisan ini, aku akan cerita keluarga dimana aku tinggal selama 14 bulan di desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Riau.

Di keluarga ini aku punya Bapak, Ibu dan ketiga adik baru. Kebetulan adikku laki-laki semua. Bapakku bernama Yahya, beliau adalah ketua RT di Dusun Tanjung Sekodi sampai saat ini. Beliau asli Melayu sehingga bahasa melayu-nya sangatlah kental. Sebulanan aku disini, aku masih sedikit “roaming” dengan Bahasa Melayu. Masih belajar dan mencoba mengerti tentang Bahasa yang sehari-hari digunakan di sini. Namun, lambat laun akhirnya aku bisa memahami bahasa Melayu walaupun tidak fasih ketika berbicara dengan bahasa Melayu. Sehari-hari beliau berprofesi sebagai nelayan. Setiap pagi beliau pergi ke laut untuk menjaring ikan, menjualnya ke Kedai (warung) dan beberapa dimakan dan di shodaqohkan kepada sanak keluarga.

WhatsApp Image 2018-01-02 at 11.19.35 AM (2)

Aku kenyang dengan ikan laut karena sehari-hari kami sekeluarga makan ikan laut hasil Bapak mencari ikan. Ketika sedang musim Ikan, pastinya kita semua senang karena rezeki mengalir terus, makanan siap sedia dengan berbagai jenis ikan. Sedihnya jika tidak musim ikan atau gelombang atau angin kencang sehingga Nelayan tidak pergi melaut. Alhasil, kami makan makanan yang lain, seperti telor, sarden atau simpanan ikan yang sudah dikeringkan. Terkadang dulu aku juga kangen makanan seperti tahu, tempe, pecel sayur, mendoan, mie jawa, dll. Pernah suatu ketika aku ninggalin pesan ke Ibu yang jualan di kedai dekat sekolah “Bu, kalo ada tahu tempe, kabarin saya ya Bu!” karena saking pengennya makan tahu tempe.

Ibuku bernama Seri. Beliau asli suku Jawa dari daerah Kediri, Jawa Timur. Namun karena beliau sudah lebih dari 26 tahun tinggal di masyarakat Melayu, membuat beliau agak kesulitan berbahasa Jawa. Lidah sudah tersetting Bahasa Melayu. Untuk memahami bahasa Jawa, beliau pasti sangat paham, namun untuk membalas percakapan mungkin agak susah karena tidak terbiasa. Setiap aku pancing dengan bahasa Jawa beliau selalu membalas dengan Bahasa Melayu. Bahasa memang masalah kebiasaan. Jika kita terbiasa dengan bahasa tertentu, untuk menggunakan bahasa yang lain, pastinya agak kaku. Tak jauh beda dengan yang dulu, sampai saat ini, Bapak masih beraktivitas seperti dulu sebagai Nelayan, sedangkan Ibu yang mengatur semua kebutuhan dan apa yang ada di rumah.

WhatsApp Image 2018-01-02 at 11.19.35 AM (3)

Selain Bapak & Ibu, tentunya ada anak-anaknya yang menjadi saudara baruku. Adikku ada tiga, pertama bernama Yusuf. Sekarang dia sudah berumah tangga dan memiliki anak bernama Nurul yang berusia kurang lebih 10 tahun yang sedang lucu-lucunya. Dia sekarang tinggal di rumahnya sendiri bersama keluarga kecilnya. Terkadang dia bekerja ke Malaysia atau ikut Bapak membawa kapal mencari ikan di laut. Yusuf adalah sosok saudara yang baik, dulu dia sering mencuci motor teman setiaku ketika kotor, selalu memparkir motor ke dalam rumah ketika malam. Padahal aku tidak pernah minta tolong. Inisiatifnya sangat tinggi sekali. Terkadang menjemput aku saat motorku bermasalah di tengah perjalanan pulang ke Sekodi.

Adik yang kedua bernama M. Khairi atau akrab disapa Mamat. Dulu waktu SD, aku sempat menjadi guru untuk kelasnya. Saat pertama kali mengajar, dulu Dia masih duduk di kelas 4 SD. Sekarang sudah kelas 3 SMP. Cepat sekali ya waktu berjalan. Adikku yang satu ini juga gak kalah perhatian, selalu menawariku dengan banyak hal, misalnya ketika makan kepedesan, dia selalu menawari minuman. Ketika sedang ngobrol masalah makanan, pasti selalu menawari. Pernah suatu ketika sedang ngobrolin masalah “Jambu Gelas”, yaitu jambu air warna putih dengan ukuran yang sebesar gelas. Jambu ini hanya tetangga samping rumah yang punya. Di sela-sela mengobrol dia menawarkan jambu itu “Bapak mau jambu gelas?”. Aku bilang “Enggak”. Tiba-tiba dengan inisiatifnya dia datang ke tetangga sebelah rumah tanpa sepengetahuanku dan pulang membawa kresek berisi beberapa jambu gelas untukku. Jadi tersentuh kan? Tentunya banyak lagi momen-momen lainnya yang berkesan.

Sekarang dia sekolah di salah satu SMP/MTS di Kota Bengkalis dan tinggal di Pondok Pesantren. Sebuah prestasi tersendiri karena dia sudah berlatih mandiri, jauh dari orang tua, mengatur waktu sendiri dengan kesibukan sekolah, kesibukan di pondok dan kegiatan pribadinya. Prestasinya juga tidak kalah dengan teman-temannya, semester kemarin dia mendapatkan ragking 3 paralel. Bagi saya sebuah prestasi besar bagi Mamat yang datang dari Desa paling ujung dan bersaing dengan rekan-rekan satu angkatannya di Kota Bengkalis. Tahun ini dia akan lulus SMP dan tentunya melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Oh iya, sekarang dia sudah pandai bermain sosial media karena tinggal di kota dimana signal juga bagus. Jadi aku bisa berkomunikasi melalui Facebook, Whats App atau berbagi kabar melalui media foto dan video. Kemajuan teknologi memang mendekatkan kami.

Adikku yang terakhir, namanya Ivan. Dulu saat aku masih bertugas di sana, Ivan berusia sekitar 3.5 tahun. Lucu dan menggemaskan. Dia selalu mencari dan menanyakan keberadaanku ketika aku tidak di rumah. Selalu mengikutiku ketika pagi, makan di depanku sembari ngajak ngobrol. Dia selalu cemburu jika aku memberikan perhatian lebih ke abangnya (si Mamat). Kadang kalo aku pergi berdua dengan Mamat, Ivan selalu protes ke Ibu, bahwa aku tidak adil, karena cuma Mamat saja yang diajak, sedangkan dia tidak. Sebelum pergi ke sekolah, biasanya aku selalu mencium tangan Ibu dan salaman (jabat tangan) dengan Ivan. Suatu ketika aku tidak salaman dengannya, dia langsung protes ke Ibu. “Bu, aku tidak disalamin”, begitu kira-kira celotehnya yang disampaikan dengan Bahasa Melayu. Terkadang jika Ibu dan Bapak sedang ke kota atau menginap di rumah orang, si Ivan bilang ke Ibu “Mak, nanti Om makan gimana mak, kalo Emak gak pulang, siapa yang masakin?”.

WhatsApp Image 2018-01-02 at 11.19.35 AM

Beda cerita dengan Ivan yang sekarang, dia sekarang sudah duduk di kelas 3 SD. Sudah tumbuh besar dan menjadi anak yang patuh. Saat kemarin datang, aku coba untuk mengetahui seberapa lancar dia membaca. Ternyata sudah pandai membaca. Bahkan katanya sudah sampai Al-Qur’an ngajinya. Semoga Mamat dan Ivan bisa terus belajar dan sekolah setinggi-tingginya dan bisa menggapai cita-citanya.

Itulah sedikit gambaran tentang keluargaku di sini. Keluarga yang begitu hangat memancarkan kasih sayang kepada semua anggota keluarga. Keluarga yang kaya akan warna yang menjadikannya indah, damai dan sejahtera. Di keluargaku ini aku menemukan cinta, kasih serta ketulusan yang membuatku selalu tersenyum lebar setiap kali aku datang kesana. Semoga suatu saat bisa bercengkerama lagi dengan mereka.

 

Jakarta, 2 Januari 2018

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra

Sudahkah Anda Menjadi Mentor Untuk Team Anda?

Mentor

Siapakah mentor dalam hidup Anda?

Apa saja yang dilakukan Mentor tersebut kepada Anda?

Saya yakin Anda semua pasti memiliki sosok sesorang mentor yang begitu berjasa dalam perjalanan hidup atau karir Anda. Apa yang sudah Anda lakukan untuk orang lain sehingga orang tersebut menyematkan predikat bahwa Anda adalah sosok Mentor bagi dirinya. Predikat seorang Mentor datangnya dari mereka (mentee), bukan dari Anda sendiri.

Di dalam dunia kerja, selain sebagai seorang Atasan (Supervisor, Manager or Director); Anda juga harus berperan untuk menjadi Mentor untuk team Anda. Tugas kita sebagai seorang Leaders adalah memastikan bahwa Team Anda tumbuh dan berkembang.

Bob Nelson mengatakan bahwa An Employee’s motivation is a direct result of the sum of interactions with his or her Manager”. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa interaksi yang terjadi antara kita dengan team kita tidak sekedar memberikan tugas atau perihal pekerjaan saja, tetapi lebih dari itu yaitu memastikan bahwa terjadi interaksi yang cukup sebagai langkah untuk membantu pengembangan diri mereka.

Dalam dunia professional atau pekerjaan, diharuskan semua pemimpin untuk memastikan bahwa team-nya bisa bekerja dengan baik, efektif, efisien sehingga bisa membantu pencapaian target dan akhirnya memberikan sumbangsih terhadap tercapainya visi misi perusahaan. Keberhasilan karyawan merupakan keberhasilan pemimpin; kegagalan mereka juga merupakan kegagalan dari pemimpin.

Salah satu hal yang harus kita lakukan sebagai seorang pemimpin adalah menjadi mentor untuk mereka. Membantu mereka untuk belajar memaksimalkan potensi yang mereka miliki, belajar keterampilan baru, memastikan mereka bisa bekerja dengan baik dan membantu mereka menjadi apa yang mereka inginkan.

Eric Parsloe, The Oxford School of Coaching & Mentoring mendefinisikan bahwa “Mentoring is to support and encourage people to manage their own learning in order that they may maximise their potential, develop their skills, improve their performance and become the person they want to be.” 

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Eric, sebagai seorang pemimpin, tugas kita adalah memberikan dukungan penuh dan mendorong team kita untuk bisa memaksimalkan potensi dirinya, membantu mereka untuk bekerja dengan baik, belajarhal baru dan membantu mewujudkan apa yang mereka inginkan.

Lalu, apa saja yang harus kita lakukan untuk bisa menjadi Mentor yang baik untuk team atau rekan kerja kita? Banyak hal yang kita bisa lakukan. Berikut adalah beberapa langkah yang harus kita lakukan:

Ajak Mereka Diskusi

Sebelum kita memulai sebuah pekerjaan, projek atau memberikan penugasan kerja. Hal pertama yang harus kita lakukana dalah berdiskusi dengan tim kita terkait dengan sesuatu yang ingin kita berikan kepadanya (project baru atau pekerjaan). Diskusi ini sebagai sarana untuk memberikan informasi perihal pekerjaan, baik perihal tujuan, standar, kualitas, target, alokasi waktu, alat dan bahan, proses kerja, dukungan yang kita berikan dan lain-lain. Harapannya mereka sudah bisa memahami dan mengerti dari awal sebelum melakukannya sehingga memperkecil peluang kesalahan dan kegagalan.

Hindari asumsi bahwa team kita pasti bisa; jangan beranggapan bahwa tanpa dikasih tahu paling juga sudah bisa, kan mereka pintar atau berpengalaman. Asumsi-asumni tersebut menjadikan kita enggan untuk turun dan terlibat sebelum pekerjaan dimulai. Jika memang team kita berhasil, tentunya hal tersebut menguntungkan kita. Tetapi jika gagal? Kitalah yang akan kena batunya.

Selain itu, diskusi ini menjadi sarana kita untuk menggali beberapa kekhawatiran-kekhawatiran yang mereka rasakan jika mengerjakan pekerjaan tersebut. Jika mereka ada kekhawatiran kita bisa membantu menyelesaikannya di awal sehingga kemungkin berhasilnya akan semakin tinggi. Selain itu, mereka juga bisa memberikan masukan dan ide-ide terbaiknya sebelum menjalankan pekerjaannya.

Kasih Contoh Bagaimana Menjalankannya

Setelah kita berdiskusi dengan mereka, menggali kekhawtiran mereka, mencari solusi atas kekhawatian mereka, langkah berikutnya kita harus bisa menunjukkan bagaimana cara mengerjakannya. Mendiskusikan bagaimana caranya tidaklah cukup, kita harus memberikan contoh nyata, demonstrasi, mengajaknya untuk melihat dan menyaksikan bagaimana Anda mengerjakan hal tersebut.

Dengan melihat; mereka akan belajar secara langsung bagaimana cara terbaik untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Beri mereka kesempatan untuk memahami, merekam dalam memori mereka dan bertanya apabila ada hal yang belum dipahami. Langkah kedua ini memperbesar peluang team kita untuk berhasil mengeksekusi pekerjaannya karena sudah melihat langsung bagaimana mengerjakannya dari Atasan atau senior mereka.

“Good management consists in showing average people how to do the work of superior people” – John D. Rockefeller

Kasih Kesempatan Mereka Membantu Pekerjaan Kita

Setelah mereka menyaksikan bagaimana cara melakukan pekerjaannya, langkah berikutnya adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk membantu pekerjaan kita. Berikan kepercayaan mereka untuk membantu sebagian pekerjaan kita sebagai wujud kepercayaan terhadap mereka.

Pelan-pelan mereka akan belajar bagaimana menjalankan pekerjaan tertentu. Seiring berjalannya waktu, tingkatkan porsi mereka dalam membantu pekerjaan sehingga mereka akan bisa mengerjakan pekerjaan tersebut sepenuhnya. Di tahap ini, kita juga bisa mengajak mereka berdiskusi kembali jika memang ada hal yang mereka ingin tanyakan atau jika ada masukan, saran dan perbaikan dari mereka.

Kasih Mereka Kepercayaan Untuk Mengerjakan

Setelah mereka memahami, melihat langsung dan membantu pekerjaan sampai benar-benar bisa, langkah berikutnya adalah memberikan kesempatan bagi mereka untuk menjalankannya sendiri. Peran kita adalah memantau pekerjaan tersebut. Jika dalam pelaksanaanya ada kekurangan, kita bisa memberikan masukan. Jika ternyata sudah sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita bisa memberikannya pujian.

Ajak Mereka Untuk Menggali Pembelajaran Atas Apa yang Dikerjakannya

Setelah mereka sudah bisa mengerjakan suatu pekerjaan, langkah berikutnya adalah mengajaknya untuk menggali pembelajaran dari proses yang mereka lalui termasuk pembelajaran apa yang mereka dapatkan selama mengerjakan project atau tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Kita semua sepakat bahwa pengalaman adalah guru terbaik dan kita bisa belajar dari pengalaman tersebut. Namun, tanpa adanya kedewasaan untuk menggali pembelajaran dan hikmah dari setiap proses yang dilalui maka kita tidak akan pernah belajar sesuatu. Pengalaman tersebut akan berlalu begitu saja; kita hanya mengalaminya saja. Tetapi jika kita mencoba menggali makna, pembelajaran dan hikmah dari proses tersebut, maka pengalaman tersebut akan menjadi sesuatu yang bermakna dan berharga sebagai bekal untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Lakukan kelima langkah di atas untuk semua pekerjaan dan proses yang akan kita berikan kepada team atau rekan kerja kita. Kepercayaan, kerjasama, sinergi dan komitmen sangat menentukan keberhasilan sebuah mentoring. Mentoring adalah langkah untuk meningkatkan kepuasan kerja serta komitmen kerja karena mereka merasa diperhatikan, dikembangkan dan diberdayakan.

 

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra

Aura Dan Karakter Kepribadian: Sebuah Tinjauan Psikologi

aura-layers

Pernahkan Anda merasakan atau melihat sosok seseorang yang begitu berkarisma, penuh wibawa dan disegani oleh banyak orang? Pernahkan Anda merasa sangat dekat, cocok dan merasa nyaman dengan seseorang yang baru saja kita kenal? Atau bahkan sebaliknya? Kita merasa tidak suka atau punya perasaan tidak nyaman ketika kita sedang besanding dengan seseorang yang baru saja kita kenal. Sama halnya hubungan persahabatan yang begitu dekat, dimana terjadi rasa nyaman diantara mereka. Hampir bisa dipastikan kita semua pasti pernah merasakan pengalaman tersebut. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Itulah yang akan penulis coba sedikit paparkan dalam tulisan ini.  

Berdasarkan literatur kesehatan yakni yoga, prana, autohipnosis dan meditasi,  dikenal bahwa manusia juga memiliki tubuh halus (aura) yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang berbakat, yakni individu yang memiliki kemampuan extra sensory perception (ESP) yang berkembang dengan baik. Aura merupakan sinar elektromagnetik yang memancar dari tubuh seseorang dan berbentuk elips yang mengelilingi tubuh fisik. Kualitas warna dan dan kepadatannya mengindikasikan kesehatan dan karakter seseorang (Carol & Tober 2006). 

Aura dapat membuat orang lain menjadi tertarik dan kagum dengan diri seseorang. Perlu dipahami juga bahwa aura ada dua yakni aura dalam dan aura luar. Aura luar merupakan aura yang lebih menunjukkan kondisi emosi atau perasaan seseorang. Jadi warna aura luar ini sangat dinamis tergantung dari kondisi emosi seseorang, ketika orang lagi sedih pasti akan berbeda dengan warna aura ketika lagi senang dan bahagia. Itulah kenapa ada seseorang yang bisa langsung menebak kita bahwa kita lagi sedih atau lagi bahagia walaupun tanpa bertanya kepada kita. Bagi individu yang punya kelebihan melihat aura, pasti tidaklah sulit menyimpulkan hal tersebut.  Selain aura luar, manusia juga memiliki aura dalam. Aura dalam ini lebih konstan dan merupakan bawaan lahir, pemberian Tuhan yang menetap pada diri seseorang. Aura inilah yang menjelaskan dan berkaitan dengan karakter dan kepribadian manusia. 

Seperti yang telah penulis paparkan di depan bahwa warna aura terbagi menjadi tujuah mengikuti warna pelagi yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Ketujuh warna tersebut diklasifikasikan menjadi dua yaitu aura langit dan aura bumi berdasarkan letaknya. Aura bumi terdiri dari merah, jingga dan kuning. Sedangkan aura langit terdiri dari biru, nila dan ungu. Seseorang dengan warna aura bumi lebih banyak menggunakan rasio dalam melakukan sesuatu, sedangkan seseorang dengan warna aura langit lebih dominan menggunakan intuisi dalam melakukan sesuatu. Sedangkan hijau merupakan aura netral diantara aura langit dan bumi, sehingga biasanya orang dengan warna hijau memiliki karakter mudah bersosialisasi dan menyesuaikan diri.

Pendekatan warna aura di atas, mampu menjelaskan bagaimana karakter atau kepribadian seseorang. Seseorang yang memiliki warna aura yang sama, memiliki karakter kepribadian yang hampir sama pula. Itulah sebabnya kenapa ada seseorang yang begitu sangat dekat dan nyaman ketika bersama dengan orang lain. Namun, sebaliknya ketika aura kita berbeda, artinya berbeda jauh jaraknya maka biasanya seseorang akan merasa tidak cocok, tidak nyaman jika mereka berdekatan dalam arti sering terjadi konflik. Bahkan ketika pertama kali berjumpa, kita bisa merasakan kenyamanan atau ketidaknyaman tersebut, walaupun kita belum tahu siapa orang yang kita jumpai tersebut.

Warna aura memang sedikit banyak memberikan penjelasan tentang karakter kepribadian manusia. Dari beberapa literature yang penulis baca, berikut penjelasan secara singkatnya.

Pertama merah, seseorang dengan aura berwarna merah kebanyakan dipenuhi oleh kuasa dan ego untuk mencapai kesuksesan, sifatnya suka memerintah, bertanggung jawab, kompetitif, berani, mempunyai sifat pemimpin. Sedangkan sifat negatife dari warna merah ini adalah egois. 

Kedua adalah jingga, seseorang yang memiliki pancaran aura berwarna jingga mempunyai sifat kepedulian dan kasih sayang dan mudah bergaul. Selain itu, warna jingga ini juga mempunyai sifat sebagai juru damai, penimbang rasa, dan praktis. Sedangkan Sifat negatif warna jingga ini adalah, malas, tidak mampu dan tidak peduli. 

Ketiga adalah  kuning, seseorang yang pancaranya auranya berwarna kuning memiliki sifat yang antusias dan mengasyikan, berpikir dengan cepat dan menghibur orang lain, senang berkumpul, dinamis,  identik dengan gagasan dan berekspresi. Sifat negatif dari warna kuning adalah curiga/iri hati.

Keempat adalah hijau, seseorang dengan pancaran aura berwarna hijau memiliki sifat sejuk dan damai serta memiliki bakat untuk menjadi seorang penyembuh alami. Sikapnya kooperatif, dapat dipercaya, dan murah hati. Sifat hijau juga menyukai tantangan, bekerja tanpa kenal lelah, dan mudah dimintai pertolongan. Sifat negatifnya bersifat kaku dalam memandang setiap persoalan yang terjadi dalam kehidupannya, baik itu dalam keluarga ataupun lingkungan sosialnya. 

Kelima adalah biru, seseorang yang pancaran auranya berwarna biru secara alami mempunyai sifat positif dan antusias. Warna biru biasanya berhati muda, tulus, jujur dan jika bertindak sesuai dengan pikirannya, mempunyai kebebasan, tidak suka dibatasi atau dilarang. Menyukai hal-hal baru, bisa menutupi perasaan dan bisa menyimpan rahasia. Sifat negatifnya kesulitan menyelesaikan tugas.

Keenam adalah nila,  sifat dari warna aura ini adalah hangat, mampu menyembuhkan dan mengasuh orang lain. Warna ini juga menandakan di pemiliknya senang memecahkan maslah, bijaksana dan suka menolong. Sedangkan sifat negatifnya adalah tidak mampu mengatakan “tidak” sehingga sering dimanfaatkan orang lain untuk melakukan beberapa hal tertentu yang diinginkan oleh orang tersebut.

Terakhir, adalah ungu, seseorang yang pancaran auranya berwarna ungu, maka berarti orang tersebut menyukai kegiatan-kegiatan spiritual, intuitif, magis, teoris, dan metafisika. Sifat negatifnya adalah merasa unggul dari yang lain.

Bagaimana kita tahu warna Aura kita?

Sebenarnya beberapa cara yang bisa kita lakukan diantaranya adalah foto aura, bertanya kepada orang yang bisa melihat Aura. Mereka adalah orang-orang special yang Allah karunia kelebihan untuk bisa melihatnya. Kebetulan saya pernah bertanya dengan rekan saya yang memiliki kemampuan ini.

Sebagai masyarakat awam, yang bisa kita lakukan adalah mencocokkan ciri-ciri kepribadian dan karakter dari masing-masing penjelasan di atas dengan diri kita. Mana yang lebih cocok dengan diri kita karakter dan ciri-cirinya. Kemungkinan besar itulah warna Aura kita.

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra

 

Psikologi Cinta dalam Rumah Tangga (Kiat Menyiapkan Diri Menuju Pernikahan)

bekal pernikahan

Tanggal 16 April 2017 kemarin, saya diberi kehormatan untuk berbagi di Seminar Pranikah membawakan kajian dari sudut pandang psikologi oleh STIKES Muhammadiyah Kudus bersama Narasumber yang lain.

Seminar

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang materi yang saya bawakan dalam kegiatan seminar Pranikah tersebut.

Topik pertama yang saya perkenalkan adalah tentang segitiga cinta dari Robert J Stenberg. Segitiga cinta mengajak kita sebagai pasangan untuk bisa menjaga ketiganya yaitu intimacy, passion dan commitment. Jika ketiganya hadir, maka itulah cinta sejati. Penurunan dari salah satu factor tersebut akan mempengaruhi kehidupan bersama pasangan kita kedepannya. Contohnya jika ada penurunan dari sisi intimacy (kedekatan) maka memperbesar kemungkinan adanya miskomunikasi, perbedaan pendapat serta konflik yang berkepanjangan. Jika penuruanan dalam factor komitmen, maka kecenderungan terhadap perceraian semakin meningkat.

setigita cinta3 faktor bahasa cinta

Namun, ada kalanya ketiga factor (intimacy, passion dan commitment ) tidak hadir. Bisa salah dua dari factor tersebut. Misalnya hanya ada passion saja, commitment saja, atau intimacy saja. Ada kalanya yang ada itu hanya dua, misalnya passion dan intimacy saja (tanpa ada komitmen). Bisa dibayangkan bagaimana masing-masing kombinasi dari tiga factor cinta tersebut.

Bisanya kasus-kasus perjodohan terikat karena komitmen mereka untuk menjalin hubungan dan menjaga pernikahan. Namun, passion dan intimacy pelan-pelan dibangun jika keduanya sama-sama saling menerima dan berusaha untuk mewujudkannya. Tanpa adanya kesadaran untuk mewujudkannya maka hal tersebut tidak akan muncul. Hal yang berat lagi adalah ketika masing-masing pasangan masih menganggap “dirinya sendiri”, “egonya sendiri”; “kesukaannya diri”. Sangat sulit untuk membangun rumah tangga jika hal tersebut masih ada.

Lalu apa yang harus dilakukan? Pelan-pelan kita beradaptasi bahwa mindset sekarang sebisa mungkin harus berdua (bersama pasangan); misal ketika kita makan, dengan sendirinya pasti ingat pasangan kita, apakah sudah makan atau belum. Ketika kita jalan-jalan, bagaimana pasangan kita di sana, dll. Itu contoh simple yang mungkin sering kita alami.

Hidup berumah tangga bukan tentang diri saya dan dia, tetapi tentang “kita (pasangan)” dan biasanya tentang kedua keluarga.

Saya sering menerima curhatan teman saya (mungkin karena background saya psikologi ya). hehe

“Aduh Kak, kenapa dia gak bisa ngertiin aku ya?

Udahlah gak usah kayak gitu, aku gak biasa ko.

Aduh lebay banget sih, padahal gitu aja.

Aduh istri ko gak bisa masak sih? Dan banyak lagi yang lain?”

Mungkin banyak sekali kekurangan kita, jika kita hitung satu persatu. Bahkan bisa jadi kita tidak akan pernah sempurna jika kita melihat satu persatu kekurangan kita.

Lalu bagaimana caranya untuk sempurna?

Jawabannnya selain penerimaan diri adalah kebesaran hati, pikiran dan diri kita untuk menyambut segala hal tentang pasangan kita. Luasnya hati, pikiran dan perasaan itu akan mendorong diri menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Kita analogikan kekurangan kita sebagai garam, lalu kita ambil air satu gelas dan masukin garam ke gelas kita. Semakin banyak kekurangan, maka semakin banyak garam yang kita masukkan. Bagaimana rasanya? Asin pastinya.

Nah, sekarang coba kita masukkan garam itu ke ember yang lebih besar, atau ke bak mandi atau ke danau. Apakah rasa garam masih terasa? Tentu tidak terasa sama sekali.

Garam itu kita analogikan kekurangan kita, air kita analogikan sebagai hati dan pikiran kita. Semakin luas hati dan pikiran kita. Maka kekurangan-kekurangan itu tidak akan terlihat karena kita bisa membuka hati dan pikiran untuk menerimanya dan akhirnya alam bawah sadar kita tentunya menjadikan semua itu sebagai bagian dari pendewasaan dan penyempurnaan diri keduanya.

foto seminar

Kita harus menyiapkan mental dan psikologis kita. Diantaranya sebagai berikut :

  • Penerimaan Diri (saling menerima, buka hati, pikiran dan perasaan) bahwa pasangan kita adalah orang yang sempurna dan hadirnya kita untuk menyempurnakan dia.
  • Kenali & Pahami Diri Sendiri dan Pasangan Anda
    • Cari Tahu Kelebihan & Kekurangan Pasangan
    • Siap Menerima Kelebihan & Kekurangan Pasangan + Keluarga
    • Cari tahu prinsip hidup dan value calon Pasangan Anda
  • Turunkan ego sendiri. Samakan frekuensi. Ketika ego sendiri-sendiri masih ada, maka benturan akan terjadi. Benturan yang terus terjadi bagai dua sisi mata uang. Bisa menguatkan dan bisa menghancurkan.
  • Tetapkan Visi Misi (Tujuan) Anda Menikah Bersama Calon Pasangan
  • Buat Kesepakatan Kedepan (Rumah Tangga)
  • Siap Mencintai & Dicintai
  • Siap Bertanggung Jawab dengan Peran Baru (Suami & Istri)
  • Siap Membimbing, Mendidik dan Saling Meluruskan

 

Coba kita menyiapkan hal-hal di atas dengan penuh “kesadaran”. Kesibukan kita menjadikan mata hati, batin dan tingkat kesadaran kita menurun sehingga yang ada adalah melewatkan setiap proses pembelajaran yang Tuhan sudah berikan dari detik ke detik. Kalo kita sadar bahwa setiap detik interaksi semua pasangan adalah pendewasaan maka semakin pasangan itu saling menguatkan.

Selain segitiga cinta, saya juga berbagi tentang bahasa cinta. Setiap orang memiliki bahasa cinta masing-masing. Bahasa cinta adalah “oksigen” / “Bahan Bakar” masing-masing orang. Ketika pasangan kita memberikan bahasa cinta itu kepada kita, maka kita merasa orang yang dicintai dan diperhatikan.

Teori ini diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman, dimana sebagai konselor penikahan. Banyak client-nya bercerai lantaran bahasa cinta yang diekspresikan pasangannya tidak semua bahasa cinta yang dimilikinya.

bahasa cinta

Contohnya :

Bahasa cinta saya adalah word affirmation. Saya paling suka dipuji, diapresiasi, diberi kata-kata positif dll”. Maka pasangan saya, bisa memberikan itu setiap saat. Misalnya, ketika saya mendapatkan prestasi, melakukan sesuai dengan baik, sudah membantu pasangan dll.

Istri saya, bahasa cintanya tangible gift, maka saya sebisa mungkin untuk memberikan kebutuhan itu untuk memberikan hadiah, membawa oleh-oleh ketika pulang dari luar kota. Tidak harus yang mahal, bagi mereka yang bahasa cintanya ini, apapun hadiahnya akan berarti bagi dirinya.

Setiap orang memiliki1 atau 2 bahasa cinta yang tinggi dalam dirinya. Tugas kita memberitahukan itu kepada pasangan kita agar pasangan kita mengetahuinya, tahu bagaimana dia memberikan bahasa cinta kepada kita dan menjadi bekal kedepannya.

Selain bahasa cinta, hal lain yang perlu disesuaikan adalah Value dan Prinsip masing-masing. Prinsip dan Value setiap orang berbeda. Bersyukur jika pasangan kita value dan prinsipnya sama dengan kita. Itu lebih mudah dan menguntungkan.

Lalu, bagaimana jika berbeda?

Kuncinya adalah saling menerima, memahami dan tidak menjadikan itu sebagai jurang perbedaan yang memicu pertengkaran.

foto ama panitia

Di akhir tulisan saya ini, saya ingin mengajak pembaca untuk refleksi diri (bertanya kepada diri dan hati masing-masing.

Sudahkah saya menerima pasangan saya dengan 100%?

Sudahkah saya “mengelola ego” saya untuk menjadikannya ‘Ego bersama” untuk kedepannya? Atau saya masih mengedapankan ego saya sendiri?

Sudahkah saya siap lahir batin untuk mempertahankan komitmen, intimacy, passion kita untuk pasangan kita.

Dan banyak lagi hal lain yang mungkin perlu kita tanya kepada diri masing-masing dari kita. Semoga pembaca semua dimudahkan dalam proses persiapan pernikahan atau menjemput jodohnya.

 

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra