Self-Efficacy (Keyakinan Diri Seseorang atas Kemampuan Dirinya)

Self-Efficacy

 

Keyakinan individu bahwa dirinya mampu meraih yang diinginkan, seperti penguasaan akan suatu keterampilan baru atau kemampuan mencapai suatu tujuan atau mimpi (cita-cita) dalam istilah psikologi disebut dengan self-efficacy. Jika individu mempunyai keyakinan bahwa ia mampu untuk melakukan sesuatu, mewujudkan mimpi-mimpinya, maka hal tersebut dapat meningkatkan dorongan individu tersebut untuk terus berusaha mewujudkan dan merealisasikan apa yang menjadi harapan dan mimpinya itu dengan baik.

 

Lalu, bagaimana caranya untuk membentuk self-efficacy dalam diri kita?

Berdasarkan apa yang saya pelajari dan pengalaman yang saya rasakan, di bawah ini adalah beberapa faktor yang bisa membentuk, menaikkan dan menurunkan self-efficacy kita.

1. Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu ini sangat mempengaruhi keyakinan diri kita. Misalnya, pada saat kalian kuliah, lalu diberi tugas yang sulit oleh dosen. Kira-kira apa yang akan kita lakukan? Mencoba mengerjakan tugas tersebut sebaik-baiknya dan diapresiasi oleh dosen tersebut? Atau mengerjakannya dengan asal saja atau tidak memberikan yang terbaik?

 

Jika kita mengerjakan dengan sebaik mungkin, dan akhirnya dipuji oleh dosen, pastinya kita akan senang, bangga dan bersyukur. Nah pengalaman seperti itu bisa memperkuat keyakinan diri kita untuk kedepannya.

 

Tapi jika kita pernah gagal melakukan sesuatu, lalu orang lain menyalahkan kita dan akhirnya kita terbawa dengan perasaan bersalah tersebut, maka bisa jadi kita akan merasa “rendah diri”. Jadi jika kita gagal, langkah pertama yang kita lakukan adalah evaluasi diri dari kegagalan dan mencoba bangkit lagi untuk memperbaiki apa yang kurang dari proses evaluasi diri tersebut.

2. Mindset Positif & Self-Driving Mentality

Saya percaya bahwa saya adalah apa yang saya pikirkan. Begitu juga kita semua. Jika kita berpikiran positif, maka perilaku kita juga positif. Sebagai contoh, saat kita melihat teman sekelas kita jago banget di bidang Matematika, lalu kita memiliki pemikiran atau mindset seperti ini:

“wah saya juga bisa nih jago kayak dia, kan kita sama-sama belajar, makannya juga sama, sepertinya saya harus coba usaha lebih keras lagi dan belajar banyak dari dia bagaimana bisa jago di bidang Matematika”.

 

Perbandingan diri kita dengan orang lain itu bisa menaikkan keyakinan atau memotivasi diri, ataupun sebaliknya. Jika kita melihat orang lain yang kebetulan posisinya “di atas” diri kita, lalu hal tersebut membuat diri kita lebih bersemangat untuk menjadi lebih baik lagi, maka itu merupakan hal bagus dan positif. Sebaliknya, jika kita merasa iri, dengki, terus tidak mau kalah maka hal tersebut membuat diri kita menjadi lebih negatif. Dalam kondisi tersebut, kita bukannya fokus untuk memperbaiki diri, justru fokus untuk melihat orang lain.

 

Self-driving adalah mental dimana kita punya kuasa penuh dan kendali atas diri kita. Orang dengan self-driving yang bagus memiliki dorongan dan keinginan kuat untuk terus maju walaupun banyak tantangan yang akan dihadapi. Keberhasilan diri kita, kita punya andil besar untuk menentukannya. Dalam istilah psikologi ada istilah “locus of control internal” atau pusat kendali internal. Orang yang memiliki locus of control internal ini akan cenderung melihat factor penentu kesuksesan dan kegalalan yang dia alami adalah dirinya sendiri. Ketika dia gagal, dia tidak menyalahkan faktor di luar dirinya tetapi dia akan melakukan evaluasi diri terlebih dahulu. Misalnya, ketika kita terlambat datang ke sekolah atau ke kantor dimana saat itu kondisi sedang hujan. Orang-orang dengan locus of control internal akan mencoba melihat dirinya sendiri, melakukan evaluasi diri. Dia akan menyadari bahwa factor telatnya mungkin karena dia kurang pagi berangkatnya, tidak memilih rute yang efektif atau tidak macet dan seterusnya. Sedangkan orang dengan locus of control external akan cenderung menyalahkan faktor di luar dirinya ketika dia telat dalam kondisi seperti itu. Misalnya dia akan beralasan karena di luar hujan, macet, tidak ada transportasi online, dan lain sebagainya.

3. Kemampuan mengelola emosi

Kemampuan diri untuk mengelola emosi yang dirasakan (bahagia, sedih, kesal, jengkel, cinta, malu, cemburu, takut, benci) juga berpengaruh kepada self-efficacy diri kita. Misalnya kita sedang sedih atau kesal. Jika kita terbawa dengan emosi tersebut dan akhirnya membuat kita menjadi tidak objektif dalam menyikapi sesuatu atau mengambil keputusan. Hal tersebut dikarenakan emosi kesal dan sedih yang kita rasakan. Jadi jangan biarkan emosi negatif tersebut terus-terusan ada dalam diri kita.

 

Apakah teman-teman merasa malu ketika diminta berbicara di depan banyak orang? Lalu akhirnya membuat teman-teman tidak berani mencoba karena rasa malu atau ragu-tagu yang dirasakan jauh lebih kuat dibandingkan keyakinan diri bahwa kita bisa untuk mulai menantang dan mencoba?

 

Jadi kita perlu untuk mengelola emosi yang kita rasakan agar kita tetap positif, optimis dan yakin untuk terus berusaha dan belajar.

4. Kemampuan berespon atas orang lain dan lingkungan

Teman-teman pasti pernah punya pengalaman diberi penilaian oleh orang lain seperti contoh di bawah ini:

 

“Dasar kamu, pasti kamu gak akan bisa untuk melakukan itu?”

“Kamu pasti gak akan pernah sukses!”

“Kamu itu bodoh, gak akanlah bisa menang lomba itu!”

 

Apakah teman-teman pernah mengalami hal tersebut?

Terus bagaimana teman-teman menyikapinya? Apakah malah meng-iya-kan kata-kata itu?

 

“iya sih saya memang bodoh”

 

Atau malah teman-teman semakin yakin dan semangat untuk membuktikan bahwa teman-teman itu bisa dan ingin membuktikan hal tersebut?

 

Cara kita menyikapi sesuatu juga berpengaruh terhadap keyakinan diri kita sendiri. Jadi, cobalah menyikapi ucapan atau perilaku orang lain apapun itu dengan hal yang positif.

 

 

Nah, yuk kita mulai hari ini mencoba melatih dan menaikkan self-efficacy diri kita! Yakini, Imani dan Amini bahwa kita mampu, kita lebih kuat dari yang kita bayangkan.

 

Salam Pengembangan!

Suhariyanto Putra

 

 

Tujuan Hidup

WhatsApp Image 2020-01-09 at 11.14.13 PM

Setiap kita dilahirkan ke dunia ini memiliki sebuah misi yang Tuhan titipkan. Mengapa kita hidup di dunia ini? Tentunya teman-teman semua memiliki jawaban atas pertanyaan itu.

Tujuan hidup saya adalah membantu orang lain dalam memaksimalkan potensi yang mereka miliki agar mereka bisa tumbuh & berkembang untuk mencapai tahapan keberhasilan dalam hidupnya. Saya percaya bahwa setiap anak punya potensi untuk sukses bila bertemu dengan dengan orang yang tepat yang bisa memfasilitasi tumbuh kembang serta minat bakat mereka. Setahun menjadi Pengajar Muda merupakan sebuah pengalaman hidup yang tidak terlupakan dimana saya bisa menjalani tujuan hidup saya tersebut. Saya pernah mendampingi anak murid belajar hingga dia bisa lolos lomba ke Jakarta. Jumidah adalah salah satu anak murid saya waktu menjadi Pengajar Muda dulu yang lolos lomba cerpen di Jakarta. Membukakan wacana baru tentang dunia di luar daerahnya. Sekarang, Jumidah sekolah di Jawa Barat, di SMK Bhakti Karya Pangandaran. Sebuah sekolah sekaligus kelas untuk belajar multikulturalisme, toleransi, menjunjung tinggi Kebhinekaan & KeIndonesiaan. Bisa memfasilitasi ruang pertumbuhan untuk orang lain adalah sebuah kepuasaan batin yang saya rasakan. Selama penempatan menjadi Pengajar Muda tentunya banyak sekali pembelajaran yang membantu saya #MenjadiUtuh. Bagi saya hidup menjadi lebih berarti bila kita bisa bermanfaat bagi orang lain, sekecil apapun manfaat itu. Sesuatu hal positif yang kita jalani secara berkesinambungan bisa memberikan dampak besar kepada diri, orang lain dan lingkungan sekitar kita.

Coba tanya dalam hati kita masing-masing, pernahkah kita melakukan sesuatu, lalu kita merasakan kepuasan batin yang luar biasa? Bisa jadi itu adalah salah satu yang menggambarkan tujuan hidup kita. Tujuan hidup erat berhubungan dengan sesuatu yang kita sangat peduli di dalamnya, apapun bidang atau areanya seperti bidang pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, teknologi dan lain-lain. Tujuan hidup juga dekat hubungannya dengan passions dan bakat yang kita punya.

Ketika kita sudah memikiki tujuan hidup, maka tugas kita adalah menjalaninya dengan konsisten sehingga perjalanan hidup kita akan semakin bermakna dan tentunya semakin kepuasan hidup akan kita dapatkan.

Jadi, apa tujuan hidup Anda? Sudahkah Anda menemukannya? Sudahkah Anda menjalaninya?

HR Mentoring with Bu Jenie Lim (Head of HR at Shopee)

Alhamdulillah, saya dan 12 temen-temen HR Praktisi lainnya menjadi bagian dari Mentoring Program Next Generation. Kegiatan ini mengusung tema HR Paradigm Shift ini bertujuan untuk menciptakan Millennial Leaders masa depan.

WhatsApp Image 2019-03-13 at 5.21.10 PM

Salah satu motivasi terbesar saya ikut ikut program ini adalah saya ingin bertemu, belajar dan berdiskusi dengan teman-teman dengan profesi sama dari berbagai macam industri, punya value yang sama, punya aspirasi sama untuk terus belajar, berbagi, berkontribusi dan memberikan impact baik secara personal maupun professional. Berikut adalah 13 Mentee di Batch 1 yang berkesempatan untuk merasakan program Mentoring dengan pada ahli HR dibidang-nya.

WhatsApp Image 2019-03-13 at 5.24.17 PM

Program ini mempertemukan kita-kita as Mentee dengan Para Mentor yang ahli dibidang HR. Alhamdulillah di batch 1 ini ada 5 Mentor yang bersedia untuk berbagi dengan kami, mereka adalah:

  1. Jenie Lim – Head of HR at Shopee
  2. Harry Permadi Dirgananto – Country Human Resource at Shell Indonesia
  3. Dr. Denny Turner – Partner at Korn Ferry Advisory Indonesia
  4. Rieswan Fauzan – Head of Corporate Strategy & Performance at Transcosmos Indonesia
  5. Sandra Kosasih – Human Capital Managing Director at Sinar Mas Land

Selain mentor yang keren di atas, kami juga didampingi oleh observer yaitu Drivers Next Genz yang sangat kece, berikut profile Bro & Sis yang kece tersebut:

  1. Arnold Sigit Saputra – HR Business Partner Manager at Godrej Consumer Products Limited
  2. Reno Rafly – Head of Organization & Talent at Combiphar
  3. Roma Tampubolon – Principal Learning & Development at Korn Ferry Advisory Indonesia
  4. Irianty Tobing, S.Psi. CHCM – Head of Human Resources at ELL Environmental Indonesia

Salah satu ekspektasi saya di program Mentoring ini adalah belajar dan dapet insight banyak tentang HR di startup industry. Saya sendiri bisa dibilang hijrah dari beberapa industri; mulai dari dunia korporasi, NGO, Pendidikan dan pada akhirnya setahun ini jalan membawaku ke dunia Startup yang sangat berbeda dari sisi culture, challenge, and organization need dibandingkan Industri dimana saya tergabung sebelumnya. Sebagai HR di Startup; saya pribadi banyak belajar untuk dealing dengan perubahan, “ketidakjelasan”, “keambiguan”. Kita semua sebagai karyawan harus bisa beradaptasi dengan ketiga hal tersebut. Ditambah lagi dengan turnover yang tinggi dan talent war yang sangat kencang. Kita as HR harus kreatif, agile, good speech of works, mapping kebutuhan bisnis terkait dengan man power yang ada, retain talent-talent yang bagus, siap dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Setelah pembagian mentor, ternyata saya ada di Group 1 bersama dengan Mba Meika & Mba Annisa. Kami bertiga ternyata akan dimentori oleh Ibu Jenie Lim. Saya pribadi merasa senang sekalu karena saya ingin tahu lebih banyak best practice HR di Startup Industry. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Shopee merupakan salah satu startup yang business growth-nya cepet banget. Bu Jenie cerita dulu waktu beliau gabung di Shopee pada Juni 2017, ada 400-an karyawan. Di akhir tahun 2017 naik menjadi 1.000 karyawan, akhir tahun 2018 menjadi 4.000 karyawan. Fantastis bukan pertumbuhannya? Pasti yang suka belanja online sudah kenal banget ama Shopee apalagi yang kemarin suka ikutan Quiz-nya Shopee.

Hari Jum’at 22 Maret 2019 yang lalu saya & Mba Annisa (HR di Kolega) berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan Ibu Jenie terkait dengan topik-topik HR sambil makan siang di Pac 10 di Pacific Century Place. Sayangnya, rekan kita Mba Meika – Talent Management dari PP tidak bisa hadir karena harus memfasilitasi kegiatan seharian full.

Dari diskusi mentoring dengan Ibu Jenie , saya mencoba untuk menuliskan point-point yang mungkin berguna untuk teman-teman semua.

  1. Startup itu masih sangat “messy”. Jadi as HR kita berperan untuk membantu supaya lebih rapi.
  2. Di Startup company, pasti di awal itu No Job Description. Kenapa begitu? Karena menuntut semua karyawannya untuk bisa “agile” atau “palu gada” alias siap untuk mau mengerjakan apa saja yang dibutuhkan organisasi.
  3. HR is HR. Setiap company itu beda-beda dan peran HR juga berbeda disetiap fase pertumbuhan organisasi. Jadi peran HR tidak bisa disamakan begitu saja karena stage of company itu beda-beda. Mungkin untuk Startup yang baru, misal karyawannya masih sedikit adalah Recruitment-nya harus kuat. Mencari talent yang bagus sesuai dengan culture dan kebutuhan bisnis sehingga mereka bisa membantu business growth. Selain itu tentunya harus didukung dengan Compensation & Benefit serta engagement program yang bagus. Salary Structure harus ada. Jangan sampai salary itu kemana-mana. Jika company terus growth, pasti nanti butuh team Learning & Development sebagai bagian dari retain employee. Tantangan berikutnya adalah merapihkan organisasi, jadi dibutuhkan orang Organizational Development dan mungkin HRBP karena business sudah berkembang begitu pesat.
  4. Peran HR harus & pasti ada walaupun selalu ada perubahan baik dari sisi teknologi ataupun kebutuhan bisnis organisasi.
  5. Untuk memperkuat kepercayaan diri kita, as HR Practitioner kita bisa ambil Certification dibidang HR untuk memperdalam keilmuwan dan kompetensi kita.
  6. Jadi karyawan jangan punya karakter “gak mau” mengerjakan sesuatu walaupun itu mungkin belum pernah kita kerjakan. Jadi harus bersedia untuk belajar terus. Jika kita bersedia untuk mengerjakan, maka akan banyak pembelajaran, pengalaman dan semoga keberkahan akan kita terima kedepannya.
  7. Jangan berhenti belajar, jadi kita semua harus selalu expand our knowledge & skill agar kita tidak ketinggalan dengan perubahan zaman dan kebutuhan bisnis.
  8. Di zaman sekarang ini, kita harus ingat dengan“LEARN, UNLEARN, RE-LEARN”. Learn, apa yang harus kita pelajari nih dengan tuntutan bisnis sekarang. Unlearn, apa yang kita kesampingkan dulu untuk kita pelajari mungkin karena tidak relevan dengan kondisi sekarang. Re-Learn, apa yang harus kita pelajari kembali untuk mempertajam skill yang kita punya agar bisa menjawab kebutuhan di era sekarang.
  9. Be brave, very helpful person and do whatever it takes.

WhatsApp Image 2019-03-22 at 2.41.53 PM

Hal menarik dari sosok Ibu Jenie Lim menurut saya adalah perjalanan karir beliau yang akhirnya mengantarkan beliau menjadi Head of HR di Shopee. Ternyata Ibu Jenie ini awalnya karirnya tidak langsung di HR, tetapi sebagai Office Manager. Sangat menginspirasi bukan?

Kenapa beliau bisa berkarir di HR? Karena beliau memiliki karakter untuk mau membantu dan mengerjakan apapun yang diamanahkan kepadanya. Beliau selalu menekankan kepada saya & Mba Annisa saat sesi diskusi agar kami memiliki karakter mau mencoba & mengerjakan tanggung jawab apapun yang diberikan oleh perusahaan agar kita terus belajar dan menambah ilmu & kompetensi. Setelah itu beliau menjadi Senior Office Manager di Rocket Internet Indonesia. Sebenernya jika ditarik kesimpulan dari cerita & perjalanan karir beliau, Ibu Jenie ini sudah menjalankan peran sebagai HR walaupun secara jabatan beliau bukan HR pada saat itu.

Singkat cerita akhirnya perjalanan karir beliau sampai di Lazada sebagai Head of HR. Saat di sana beliau banyak membantu mengurusi perihal legal documents expatriate, rekrutmen karyawan, mengurusi rekening karyawan & gaji karyawan, membantu pembukuan perusahaan, termination, HR budgeting, talent development, payroll, employee engagement, company regulation dan lain-lain. Setelah berkarya di Lazada selama kurang lebih 3.5 tahun, beliau sempat break selama 11 bulan karena mau fokus ke keluarga. Tetapi saat menjalani peran tersebut beliau merasa no meaning, no contribution, not getting any smarter. Akhirnya beliau memutuskan untuk kembali bekerja dan berjodoh dengan Shopee Indonesia as Head of HR.

Karakter beliau yang terus memberikan nilai lebih, mau mencoba hal apapun yang diamanahkan, terus belajar, terus berkontribusi dan berusaha sekuat tenaga serta rendah hati mengantarkan beliau sampai di posisi beliau sekarang. Berdasarkan cerita beliau, sekarang total tim HR di Shopee sekitar 70 orang (Maret 2019). Beliau gabung di Shopee Juni 2017 saat itu total HR ada 12 dan semuanya merupakan millennial. Tantangan yang dihadapi beliau saat itu adalah build HR Infrastructure. Akhirnya beliau melakukan HR mapping & structuring kembali melihat dengan kebutuhan bisnis sampai akhirnya beliau hire some of experience talent untuk memperkuat HR tim yang ada. Menurut beliau, pada saat awal bekerja di Shopee beliau banyak nurturing team karena kebanyakan dari mereka millennial & fresh graduate. Sekarang peran tersebut sudah dibantu oleh masing-masing Lead sehingga beliau ada waktu untuk melakukan networking atau focus kepada hal yang lainnya. Per Maret 2019 saat kita diskusi, Ibu Jenie menjelaskan bahwa tim HR di Shopee yang berjumlah 70 orang tesebut terdiri dari Recruitment, Compensation & Benefit, Engagement, Learning & development, Organizational Development, Performance Management, HRBP & General Affairs. Perkembangan tim HR di Shopee sendiri menurut beliau karena kebutuhan & pertumbuhan organisasi yang terus berkembang. Kemungkinan akan terus naik jika pertumbuhan bisnis kedepan sangat bagus.

WhatsApp Image 2019-03-22 at 2.41.52 PM

Waktu 2 jam lebih terasa kurang untuk menggali banyak pengalaman dan ilmu dari Ibu Jenie. Diskusi kita akhirnya kita cukupkan dulu karena beliau ada janji meeting lainnya. Kami senang hari ini bisa belajar banyak dari sosok Ibu Jenie dan pastinya sangat antusias untuk bertemu lagi untuk berdiskusi lebih banyak lagi terkait dengan HR ataupun hal-hal lainnya. Terima kasih Ibu Jenie, can’t wait to discuss with Ibu again.

 

 

Jakarta, Maret 2019

Salam Hangat

Suhariyanto Putra

 

 

 

Menjadi Karyawan Bernilai

Slide5

Dikisahkan seekor cacing yang berteman dengan seorang Dewa. Sang Dewa melihat cacing selalu bergumul dengan kotoran apapun yang ditemuinya. Dewapun amat kasihan dan mengajak cacing untuk mengubah hidupnya. Namun, cacing sungguh nyaman dengan kotoran kesayangannya dengan menolak ajakan Dewa.

(Disadur dari Buku Ajahn Bram, yang berjudul si Cacing dan Kotoran Kesayangannya)

Mungkinkah hidup kita sebenernya sudah menjadi zona nyaman? Yang bahkan kelihatannya nyaman, sudah bagus, merasa sudah memberikan hal terbaik, sudah saking nyamannya sehingga kita tidak merasa bahwa apa yang kita lakukan biasa-biasa saja tersebut mengancam masa depan kita, mengancam karir kita.

Saking nyamannya dengan rutinitas yang sebenernya “begitu-begitu saja” sehingga kita tidak membutuhkan perubahan? atau bahkan menolak adanya perubahan?

Marilah lihat diri kita! Beri Nilai termahal untuk diri kita sendiri! Dengan memberikan nilai terbaik tersebut, maka nilai-nilai lebih akan kita dapatkan. Apakah selama ini kita hanya memberikan nilai seharga seorang karyawan yang biasa saja? Atau karyawan yang memberikan nilai lebih?

Coba renungkan paragraf di bawah ini!

Bila Anda digaji Rp 10.000.000,00 oleh perusahaan. Namun Anda bekerja seperti bergaji Rp 20.000.000,00, maka Allah akan membayar lebihnya dengan kesehatan, karir, keluarga sejahtera dan semisalnya. Namun, bila Anda bekerja seperti orang bergaji Rp 5.000.000,00 maka Allah pun akan menuntut sisanya dengan memberimu kesusahan hutang, kesempitan dan semisalnya. Jadi, bekerjalah maksimal, ikhlaslah, yakinlah dan perhatikan apa yang akan Allah buat untuk kejayaanmu. (Haikal Hasan)

Lalu, apa hubungannya mereka dengan kita?

Jelas ada hubungannya. Mari tanyakan kepada diri kita. Sudahkah kita memberikan yang terbaik selama kita bekerja? Atau malah sebaliknya? Apakah kita mengeluh dengan pekerjaan kita? Mengeluh atas gaji yang kita peroleh? Mengeluh atas beban kerja dan tantangan kerja yang kita hadapi?

Tidakkah kita berpikir bahwa di luar sana begitu banyak orang yang siap menggantikan posisi kita? Ketika kita berhenti bekerja, perusahaan tinggal mencari pengganti kita. Adakah alasan untuk kita bekerja biasa-biasa saja? Padahal kita tahu bahwa apa yang kita berikan, itulah yang akan kita dapatkan.

Memang tidak semua dari kita sadar atau bahkan terlena dengan keadaan sehingga menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. Buat apa kerja keras, toh tiap akhir bulan kita gajian? Buat apa berdedikasi, yang lain juga tidak menunjukkan dedikasi yang lebih? Ikut sajalah yang lainnya. Gampang, gak perlu ribet-ribet amat.

Apakah kita berpikir demikian juga?

Setuju dengan apa yang dikatakan Prof. Renald Kasali dalam buku self-driving bahwa dari sejumlah orang yang menekuni profesi tertentu, hanya kurang dari 2% yang benar-benar serius dan mengembangkan dirinya. Yang lain terperangkap dalam mentalitas penumpang yang memilih untuk menunggu. Memilih untuk diam, menjadi biasa-biasa saja. Padahal, jika kita mau berusaha, melakukan perubahan, memberikan sesuatu yang lebih dibandingkan orang lain. Kita akan mendapatkan lebih dari yang orang lain dapatkan.

Coba kita analogikan bersama. Jika kita diberikan tanggung jawab 10 di perusahaan. Kenapa kita tidak berusaha memberikan 20, 30 atau 50? Mengapa kita hanya memberikan 10 kalo kita bisa memberikan lebih? Tidakkah kita berpikir bahwa semakin banyak kita berkonstribusi dalam pekerjaan kita, kita akan menabung sekaligus menciptakan peluang untuk terus tumbuh dan berkembang. Peluang karir terbuka lebar bukan?

Kita mungkin sepakat bahwa mereka yang dikatakan sebagai Talent adalah mereka yang memiliki karakter bagus artinya memiliki mental sebagai seorang drivers (supir). Pribadi yang suka dengan tantangan baru, melihat tantantangan sebagai peluang, selalu belajar tentang hal baru, jujur, penuh tanggung jawab, integritas dan komitmen dalam menjalankan pekerjaannya.

Selain nilai-nilai, karakter diri yang bagus, mereka juga menunjukkan performa yang bagus. Artinya mereka mampu menunjukkan bahwa mereka bisa bekerja dengan memberikan lebih dari apa yang diharapkan.

Jadi, mau pilih yang mana? Karyawan biasa? Karyawan luar biasa? Karyawan yang punya “value”? Pilihan ada di tangan kita! Berikan nilai terbaik dimanapun kita berada. Tunjukkan bahwa Anda memiliki potensi untuk terus tumbuh berkembang, siap menerima segala tantangan untuk membantu keberhasilan Perusahaan!

 

Jakarta, 14 Maret 2019

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra

 

Sosial Media; Sahabat Belajar Generasi Milenial

millenial

Jika kita bertanya kepada rekan kerja yang termasuk Generasi Millennial, siapakah yang memiliki media sosial? Saya yakin, semua dari mereka pasti punya sosial media. Lalu mengapa semua generasi millennial memiliki sosial media?

Generasi Millennial adalah mereka yang lahir diantara tahun 1980 sampai sekitar tahun 1996 dimana mereka besar dan lahir di era teknologi dan dunia digitalisasi mulai berkembang. Seiring dengan bertambahnya usia mereka, dunia teknologi semakin berkembang pesat dan mau tidak mau mereka terpapar dengan maraknya teknologi termasuk sosial media.

Teman kerja saya ada yang memiliki hoby menjadi seorang youtuber (berbagi informasi, pengalaman, edukasi, memberikan laporan berita dan banyak lagi lainnya). Ketika saya tanya, dia jawab simple “ini hobi saya dan dari sini berpeluang untuk mendapatkan penghasilan”.

Saya sendiri juga termasuk orang yang ingin tahu dan pengguna media sosial aktif sebagai ajang untuk berkenalan, berinteraksi, menambah jaringan, mendapatkan berita/informasi, bahkan sarana belajar dari sosok menginspirasi yang saya kagumi. Bayangkan saja, saya bisa mengikuti training atau seminar yang diadakan oleh pembicara-pembicara keren di seluruh dunia melalui media sossial youtube. Saya tinggal cari videonya, lalu download atau langsung streaming menyaksikan mereka memberikan seminar atau training. Sekarang, banyak sekali artis, public speaker, trainer, pembicara atau saya bisa bilang semua profesi memiliki caranya sendiri untuk belajar, atau berbagi ilmu dan inspirasi melalui sosial media yang sedang dicintai oleh para generasi anak zaman sekarang. Dimensi jarak dan waktu tidaklah menjadi halangan untuk mendapatkan informasi terbaru atau berkoneksi dengan siapapun.

Seberapa sering kita melihat, membuka, membaca, posting atau menulis status di sosial media dalam setiap harinya? Jawabannya pasti hampir setiap waktu. Misalnya saat makan siang, sedang dijalan, sedang menunggu orang, bahkan saat meeting atau ikut training-pun kita pasti sempatkan diri untuk melihat sosial media kita. Kenapa begitu ya?

Hal tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh GALLUP tahun 2016 bahwa 71% generasi millennial menggunakan internet untuk mencari informasi dan berita. Hal tersebut tentunya sudah menjadi gaya hidup mereka untuk mencari tahu sesuatu melalui internet. Dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa 93% millennial menggunakan sosial medianya untuk berinteraksi dengan teman atau keluarga. Bahkan di atas 80% generasi millennial ini menjalani kehidupannya dengan online. Mereka lebih suka menulis, membaca, berkirim e-mail, membaca informasi melalui twitter, facebook, instagram, whats app, messenger, mencari informasi melalui media online tersebut. Berdasarkan data dari Forbes (Mei 2017), Jumlah millennials pada 2017 di seluruh dunia sebanyak 2.400.000.000. Kita bisa banyangkan sebanyak itulah pengguna aktif sosial media di dunia ini, hampir setiap waktu aktif dalam aktivitas online dan sangat yakin kedepan akan semakin bertambah banyak pengguna aktif sosial media ini.

Apakah hal itu baik? Atau sebaliknya? Perkembangan teknologi tentunya memiliki pengaruh, baik itu positif atau negatif. Tentunya, kita sebagai pelaku aktif dan penikmat sosial media harus pandai untuk menggunakan serta memanfaatkannya untuk meningkatkan kompetensi diri, media branding, memberikan informasi yang tepat, memberi dampak positif bahkan menanamkan karakter positif kepada generasi penikmat sosial media yang lain.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa bijak menggunakan sosial media sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan ilmu dan keterampilan serta berbagi inspirasi positif kepada orang lain? Berikut beberapa hal yang perlu kita jadikan pedoman dalam menggunakan sosial media.

1.   Kenali dirimu dan gunakan sosial media sosial sebagai sarana pengembangan diri

Sosial media layaknya sebuah jalan kita untuk memaksimalkan potensi atau membantu kita menutupi kekurangan diri. Misalnya jika kita memiliki kelebihan untuk desain, kita bisa menggunakan sosial media sebagai jalan sebagai tempat untuk aktualisasi diri dengan berbagi tips, cara membuat desain atau bahkan mengenalkan karya kita.

Begitu sebaliknya, jika kita memiliki kekurangan tertentu. Silahkan pilih cara untuk membantu menutupi kekurangan kita. Sebagai contoh ikutlah group, komunitas atau follow orang lain yang bisa membantu kita untuk menutupi kekurangan tersebut. Bahkan sekarang banyak bimbingan online, kuliah online, training online yang sejatinya mengakomodir ciri gaya belajar para millennials.

2.   Bertemanlah dengan account yang memberikan pengaruh positif

“Kita akan sukses jika berada dalam lingkungan yang tepat dan orang-orang yang tepat”.

“Jika kita ingin tahu seseorang, lihatlah siapa saja orang-orang disekelilingnya”

Pepatah itu menyadarkan kita semua untuk bijak dalam berteman, berjejaring dengan orang lain baik itu dunia nyata ataupun dunia maya (sosial media). Merekalah yang akan mewarnai hidup kita. Cobalah lihat kembali siapa saja teman, jejaring kita termasuk di sosial media agar pengaruh positif selalu hadir di tengah-tengah kita. Orang positif akan memberikan pengaruh positif kepada kita yang nantinya akan membentuk karakter diri kita juga.

3.   Miliki karakter kritis untuk menyikapi banjirnya informasi di sosial media

Sosial media pasti akan menggiring diri kita pada sebuah opini tertentu atau bahkan bisa “mencuci otak kita” jika kita tidak bijak dalam mengolah informasi. Jangan cepat percaya dengan berbagai informasi yang ada di sosial media karena tidak semua informasi tersebut hadir dari pihak-pihak yang terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan. Kita semua pasti merasakan hebatnya pengaruh sosial media ini saat pemilu kepada daerah di Jakarta sedang panas-panasnya. Strategi saling serang antara kubu akhirnya memanfaatkan sosial media sebagai upaya menggiring opini masyarakat untuk pro atau kontra dengan salah satu calon. Jadi, agar kita tetap objektif dan mendapatkan informasi yang benar, coba mulainya untuk selalu mengecek kembali kebenaran informasi tersebut. Bersikaplah netral terhadap apapun dan siapapun agar kita tidak lantas percaya dan terpengaruh dengan informasi yang beredar.

4.   Tetapkan tujuan kita menggunakan sosial media

Hal yang paling penting untuk kita sebagai pengguna aktif atau penikmat sosial media adalah mengetahui tujuan kita menggunakannya. Pemahaman akan tujuan mengapa kita menggunakan sosial media ini akan menjadi pegangan kita untuk bersikap kedepan. Kita tidak menjadi pribadi yang hanya ikut-ikutan teman, justru itu bisa akan menjadi boomerang untuk kita sendiri karena kita tidak tahu mau digunakan untuk apa sosial media yang kita gunakan.

Sosial media adalah media yang memiliki banyak manfaat jika kita bisa menggunakan dan memaksimalkan. Bahkan sosial media bisa membantu personal branding kita jika kita bisa memaksimalkannya. Sosial media bukanlah hal yang mengatur hidup kita, jadi marilah kita tetapkan cara dan strategi agar kita bisa mendapatkan manfaat dengan adanya sosial media terutama untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus sebagai media untuk aktualisasi diri. Apakah Anda sudah mengoptimalkan sosial media Anda?

Jakarta, 11 Oktober 2018

Salam Pengembangan!!

Suhariyanto Putra