Where There’s a Will, There’s a Way (Perjuangan Haini dan Jumidah Berhasil Menginjakkan Kaki di Jakarta)

Perjuangan yang tidak ada hentinya, pasti akan berjumpa dengan keberhasilan pada masanya. Aku teringat beberapa tahun silam, dimana aku berusaha melanjutkan pendidikanku. Dua tahun aku berjuang, berusaha serta berdo’a semoga Allah memberikan aku kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikanku. Tahun 2008, Allah menjawab do’aku. Melalui Paramadina Fellowship 2008 aku bisa mengeyam pendidikan tinggi.

Hari ini aku teringat masa itu. Dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Sekarang, Allah membuktikannya lagi melalui dua anak muridku, Haini dan Jumidah. Mereka akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki di Jakarta. Sebuah hasil dan perjuangan panjang selama dua tahun terakhir mereka perjuangkan. Sebuah mimpi yang terwujud menjadi kenyataan.

Aku mengenal mereka kurang lebih setahunan ini. Selama setahun ini, aku belajar banyak tentang mereka. Mereka berdua adalah anak yang mau diarahkan, mau belajar, rajin serta tekun. Bagiku itu adalah modal untuk terus berkembang. Selama bertugas di Sekolah ini, aku tidak banyak berharap. Aku ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bisa mengembangkan potensinya dan belajar banyak hal. Harapanku supaya mereka bisa belajar hal yang belum mereka pelajari sebelumnya. Kesempatan itulah yang “mahal” di mata mereka. Paling tidak, kesempatan dan pengalaman yang mereka alami, akan menjadi ladang pembelajaran yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidupnya.

Aku ingin mengikutsertakan anak-anak perlombaan sesuai dengan keahlian masing-masing. Paling tidak, aku berharap anak-anak di desa ini bisa keluar dari desa, belajar dari teman-teman dan orang lain di luar desa mereka. Aku tidak mengharapkan mereka menjadi juara. Juara adalah bonus dan konsekuensi dari apa yang sudah mereka lakukan. Aku hanya ingin mereka mendapatkan kesempatan merasakan sebuah perlombaan, mmotivasi mereka, mengasah kemampuan mereka, belajar menjunjung tinggi sportivitas, belajar arti kerja keras, belajar percaya pada diri mereka sendiri dan belajar untuk terus optimis.

Selama setahun di sini, Haini dan Jumidah mengikuti beberapa lomba. Mereka mau belajar apapun, itu adalah modal awal yang mereka miliki. Awal tahun lalu, mereka mengikuti Olimpiade Sains berbarengan dengan seluruh siswa SD se-Indonesia. Namun, Allah belum memberikan mereka kesempatan untuk lanjut ke babak berikutnya. Hanya sampai di babak penyisihan. Di tahun lalu mereka juga mengikuti lomba serupa, namun belum berhasil maju ke babak semifinal.

Pertengahan tahun ini, aku mengajak dan membimbing mereka untuk mengikuti sebuah kompetisi Matematika dan IPA tingkat Nasional. Mereka harus membuat karya/permainan yang berhubungan dengan IPA, Matematika atau Teknologi. Ketika itu mereka bekerja keras belajar dan membuat karya mereka untuk diikutsertakan dalam kompetisi tersebut. Tapi Allah belum memberikan mereka kesempatan untuk maju ke babak selanjutnya di Jakarta.

Tidak hanya sampai di situ. Bulan September lalu, merekapun tidak patah semangat untuk mencoba mengikuti konferensi anak di Jakarta yang diselenggarakan oleh swasta. Mereka berduapun berusaha menuliskan cerita mereka agar bisa diikutkan dalam kompetisi tersebut. Lagi dan lagi, keberuntungan belum ada dipihak mereka.

Bulan Oktober, untuk kesekian kalinya, akupun mengajak mereka mengikuti lomba menulis cerita yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Alhamdulillah mereka mau mencoba lagi. Mereka memang anak yang mau belajar dan mau mencoba. Mereka berdua memang pribadi yang mau diarahkan, mau dibimbing dan punya kemauan keras untuk belajar.

Aku selalu bilang kepada anak-anak agar mereka terus belajar dan mencoba. “Jangan pernah takut untuk mencoba. Dengan mencoba maka kita akan tahu sejauh mana kemampuan kita. Syukur Alhamdulillah nanti kalian lolos dan berhasil masuk ke babak selanjutnya. Tapi kalo kalian tidak mencoba, kalian tidak akan pernah tahu itu. Kalian tidak akan pernah mendapatkan kesempatan belajar yang tidak semua orang dapatkan.”

Di lomba kali ini, Allah menjawab semua usahanya. Allah mewujudkan mimpi-mimpinya. Mereka lolos menjadi Finalis Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2013 di Jakarta. Selama empat hari, dari tanggal 20 s/d 23 November 2013 mereka akan menjalani serangkaian acara Konferensi di Jakarta. Raut muka penuh bahagiapun terlihat ketika aku menyampaikan kabar gembira itu kepada mereka. Bahkan mereka langsung memberitahu orang tua mereka bahwa mereka akan ke Jakarta. Orang tua merekapun begitu bahagia melihat anaknya mampu meraih prestasi yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Prestasi pertama anak desa Sekodi dimana bisa menginjakkan kaki ke Jakarta. Bagi sebagian orang di desa ini, ke Jakarta atau ke Jawa adalah mimpi. Menuju kabupaten saja merupakan hal yang sangat jarang mereka lakukan, lebih-lebih ke Pekanbaru atau Jakarta. Warga desapun ikut bahagia mendengar kabar anak Sekodi akan terbang ke Jakarta. Beberapa mereka mendukung agar anaknya diizinkan untuk pergi agar mereka tahu dunia di luar desa Sekodi. Mereka sadar bahwa kesempatan ini merupakan kesempatan mahal yang belum tentu akan mereka dapatkan lagi.

Aku tak banyak berharap. Bagiku, mungkin prestasi mereka adalah kepuasan hati terbesar selama aku mengabdikan diri menjadi guru di Desa ini. Bahagia, senang, terharu, bangga bahwa jalan sudah mulai terbuka. Aku sadar bahwa ini semua tercapai karena kegigihan mereka, karena kemauan besar mereka untuk terus belajar dan mencoba. Kami sebagai guru di SDN 38 Sekodi berharap semoga prestasi ini menjadi motivasi untuk siswa yang lain agar terus semangat untuk terus belajar dan mencoba. Aku sendiri berharap agar semua guru di sekolah atau di desa Sekodi, di Bengkalis dan seluruh guru dimanapun – terus terlibat untuk mengembangkan potensi anak-anak didik mereka. Sejatinya, mereka anak-anak yang berpotensi, mereka butuh bimbingan dan arahan agar potensi mereka bisa terus terasah dan bersinar.