Seruan untuk Terus Upgrade Diri

 

Upgrade Diri

Apakah Anda suka pergi ke sebuah toko roti untuk membeli roti kesukaan Anda? Jika iya, mungkin di toko roti tersebut tersedia berbagai macam rasa roti baik rasa keju, coklat, vanila maupun rasa lainnya. Setiap pagi dengan hati yang gembira, Tukang roti selalu menyiapkan adonan pembuat roti dengan bahan terbaik. Dalam pikirannya dia harus memberikan yang terbaik bagi penikmat rotinya. Tak lama kemudian, rotinya sangat terkenal karena kenimatannya sehingga pelanggan-pun selalu antri bila ingin membeli rotinya.

Karena rotinya sangat terkenal, Tukang roti tersebut sangat hati-hati menjaga cita rasa. Dia rela turun tangan langsung untuk membuat rotinya. Tak seorang pun yang dia percayai untuk membantunya. Kurang pas, rasanya bila dia tidak turun tangan langsung. Memang pelanggan terus datang secara bertubi-tubi dari pagi sejak tokonya buka sampai tokonya tutup. Ia berjalan mondar-mandir melayani seluruh permintaan pelanggannya. Namun lihatlah apa yang terjadi dengan diri tukang roti ini. Dia sibuk memberikan yang terbaik bagi pelanggannya. Tapi dia lupa memberikan yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Begitu banyak pemimpin gagal merawat dirinya sendiri, sehingga tidak bisa melayani orang lain. Mereka “kelaparan” secara fisik, emosional, intelektual dan spiritual. Tidak ada pertumbuhan pribadi yang dilakukannya. Mereka lupa untuk mengkonsumsi “makanan” dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sendiri. Mereka begitu dekat dengan makanan, tetapi tidak pernah memakannya. Pemimpin harus memberi makan dirinya sendiri, sebelum memberi makan kepada orang lain.

Tulisan di sadur dari Buku Habitudes “Starving Baker”

The Art of Self-Leadership – Dr. Tim Elmore

——————————————————————————————————————–

 

Pembaca yang Budiman,

Cerita di atas memberikan banyak pelajaran untuk kita. Sangat ironis sekali, seorang penjual roti kelaparan di tengah banyaknya makanan. Penjual tersebut sibuk melayani pembeli dan memberikan yang terbaik untuk pelanggannya.

Sama seperti kita teman-teman. Kita sibuk bekerja sebaik-baiknya, bahkan terkadang sampai lupa waktu. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita sudah memberi makan diri kita sendiri?

Memberi makan artinya menyeimbangkan hidup dengan olah fisik, emosional, intelektual dan spiritual. Sudahkah kita memberikan porsi untuk olahraga atau aktivitas fisik? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk sekedar memenuhi kebutuhan emosional kita dengan bersilaturahmi dengan keluarga, sahabat, kawan atau komunitas yang kita miliki? Sudahkah kita peduli untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan? Misalkan dengan membaca buku, kursus atau training. Sudahkah kita memenuhi kebutuhan spiritual kita misalnya dengan menjalankan ajaran-ajaran agama kita?

Bagi saya, analogi tulisan di atas memberikan pelajaran yang mendalam. Lebih-lebih bagi saya sebagai pekerja kantoran di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Saya berusaha untuk tidak terjebak dalam rutinitas pekerjaan. Berangkat kerja pagi hari, pulang kerja malam, setiap hari menghadapi kemacematan. Datang ke kantor, lalu mengerjakan tugas dan tanggung jawab kita, pulang kantor langsung istirahat. Besok kembali lagi mengulang aktivitas pekerjaan sebagaimana biasanya.

Kita sangat rentan dengan autopilot kita. Melakukan hal yang sama setiap hari sehingga tidak ada peningkatan diri secara fisik, emosional, intelektual ataupun spiritual. Oleh karena itu, penting sekali untuk sadar sepenuhnya untuk membuka hati dan pikiran agar kita selalu dan berusaha untuk upgrade diri.

Pengalaman saya di dunia pelatihan dan pengembangan, sering menemukan pribadi yang tidak ada keinginan untuk belajar, tidak ada motivasi meningkatkan kualitas diri, merasa sudah paling pintar, merasa nyaman dengan keadaan yang ada, merasa bahwa training tidak penting dan lain-lain.

Padahal jika kita mau belajar, ternyata banyak hal yang tidak kita ketahui. Semakin banyak kita belajar, maka semakin banyak ilmu yang belum kita ketahui dan perlu kita pelajari.Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika saya belajar atau mengikuti sebuah training. Justru membuat saya sadar bahwa banyak ilmu yang belum saya tahu, semakin penasaran akan sesuatu dan ingin belajar dan belajar lagi.