Psikologi Cinta dalam Rumah Tangga (Kiat Menyiapkan Diri Menuju Pernikahan)

bekal pernikahan

Tanggal 16 April 2017 kemarin, saya diberi kehormatan untuk berbagi di Seminar Pranikah membawakan kajian dari sudut pandang psikologi oleh STIKES Muhammadiyah Kudus bersama Narasumber yang lain.

Seminar

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang materi yang saya bawakan dalam kegiatan seminar Pranikah tersebut.

Topik pertama yang saya perkenalkan adalah tentang segitiga cinta dari Robert J Stenberg. Segitiga cinta mengajak kita sebagai pasangan untuk bisa menjaga ketiganya yaitu intimacy, passion dan commitment. Jika ketiganya hadir, maka itulah cinta sejati. Penurunan dari salah satu factor tersebut akan mempengaruhi kehidupan bersama pasangan kita kedepannya. Contohnya jika ada penurunan dari sisi intimacy (kedekatan) maka memperbesar kemungkinan adanya miskomunikasi, perbedaan pendapat serta konflik yang berkepanjangan. Jika penuruanan dalam factor komitmen, maka kecenderungan terhadap perceraian semakin meningkat.

setigita cinta3 faktor bahasa cinta

Namun, ada kalanya ketiga factor (intimacy, passion dan commitment ) tidak hadir. Bisa salah dua dari factor tersebut. Misalnya hanya ada passion saja, commitment saja, atau intimacy saja. Ada kalanya yang ada itu hanya dua, misalnya passion dan intimacy saja (tanpa ada komitmen). Bisa dibayangkan bagaimana masing-masing kombinasi dari tiga factor cinta tersebut.

Bisanya kasus-kasus perjodohan terikat karena komitmen mereka untuk menjalin hubungan dan menjaga pernikahan. Namun, passion dan intimacy pelan-pelan dibangun jika keduanya sama-sama saling menerima dan berusaha untuk mewujudkannya. Tanpa adanya kesadaran untuk mewujudkannya maka hal tersebut tidak akan muncul. Hal yang berat lagi adalah ketika masing-masing pasangan masih menganggap “dirinya sendiri”, “egonya sendiri”; “kesukaannya diri”. Sangat sulit untuk membangun rumah tangga jika hal tersebut masih ada.

Lalu apa yang harus dilakukan? Pelan-pelan kita beradaptasi bahwa mindset sekarang sebisa mungkin harus berdua (bersama pasangan); misal ketika kita makan, dengan sendirinya pasti ingat pasangan kita, apakah sudah makan atau belum. Ketika kita jalan-jalan, bagaimana pasangan kita di sana, dll. Itu contoh simple yang mungkin sering kita alami.

Hidup berumah tangga bukan tentang diri saya dan dia, tetapi tentang “kita (pasangan)” dan biasanya tentang kedua keluarga.

Saya sering menerima curhatan teman saya (mungkin karena background saya psikologi ya). hehe

“Aduh Kak, kenapa dia gak bisa ngertiin aku ya?

Udahlah gak usah kayak gitu, aku gak biasa ko.

Aduh lebay banget sih, padahal gitu aja.

Aduh istri ko gak bisa masak sih? Dan banyak lagi yang lain?”

Mungkin banyak sekali kekurangan kita, jika kita hitung satu persatu. Bahkan bisa jadi kita tidak akan pernah sempurna jika kita melihat satu persatu kekurangan kita.

Lalu bagaimana caranya untuk sempurna?

Jawabannnya selain penerimaan diri adalah kebesaran hati, pikiran dan diri kita untuk menyambut segala hal tentang pasangan kita. Luasnya hati, pikiran dan perasaan itu akan mendorong diri menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Kita analogikan kekurangan kita sebagai garam, lalu kita ambil air satu gelas dan masukin garam ke gelas kita. Semakin banyak kekurangan, maka semakin banyak garam yang kita masukkan. Bagaimana rasanya? Asin pastinya.

Nah, sekarang coba kita masukkan garam itu ke ember yang lebih besar, atau ke bak mandi atau ke danau. Apakah rasa garam masih terasa? Tentu tidak terasa sama sekali.

Garam itu kita analogikan kekurangan kita, air kita analogikan sebagai hati dan pikiran kita. Semakin luas hati dan pikiran kita. Maka kekurangan-kekurangan itu tidak akan terlihat karena kita bisa membuka hati dan pikiran untuk menerimanya dan akhirnya alam bawah sadar kita tentunya menjadikan semua itu sebagai bagian dari pendewasaan dan penyempurnaan diri keduanya.

foto seminar

Kita harus menyiapkan mental dan psikologis kita. Diantaranya sebagai berikut :

  • Penerimaan Diri (saling menerima, buka hati, pikiran dan perasaan) bahwa pasangan kita adalah orang yang sempurna dan hadirnya kita untuk menyempurnakan dia.
  • Kenali & Pahami Diri Sendiri dan Pasangan Anda
    • Cari Tahu Kelebihan & Kekurangan Pasangan
    • Siap Menerima Kelebihan & Kekurangan Pasangan + Keluarga
    • Cari tahu prinsip hidup dan value calon Pasangan Anda
  • Turunkan ego sendiri. Samakan frekuensi. Ketika ego sendiri-sendiri masih ada, maka benturan akan terjadi. Benturan yang terus terjadi bagai dua sisi mata uang. Bisa menguatkan dan bisa menghancurkan.
  • Tetapkan Visi Misi (Tujuan) Anda Menikah Bersama Calon Pasangan
  • Buat Kesepakatan Kedepan (Rumah Tangga)
  • Siap Mencintai & Dicintai
  • Siap Bertanggung Jawab dengan Peran Baru (Suami & Istri)
  • Siap Membimbing, Mendidik dan Saling Meluruskan

 

Coba kita menyiapkan hal-hal di atas dengan penuh “kesadaran”. Kesibukan kita menjadikan mata hati, batin dan tingkat kesadaran kita menurun sehingga yang ada adalah melewatkan setiap proses pembelajaran yang Tuhan sudah berikan dari detik ke detik. Kalo kita sadar bahwa setiap detik interaksi semua pasangan adalah pendewasaan maka semakin pasangan itu saling menguatkan.

Selain segitiga cinta, saya juga berbagi tentang bahasa cinta. Setiap orang memiliki bahasa cinta masing-masing. Bahasa cinta adalah “oksigen” / “Bahan Bakar” masing-masing orang. Ketika pasangan kita memberikan bahasa cinta itu kepada kita, maka kita merasa orang yang dicintai dan diperhatikan.

Teori ini diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman, dimana sebagai konselor penikahan. Banyak client-nya bercerai lantaran bahasa cinta yang diekspresikan pasangannya tidak semua bahasa cinta yang dimilikinya.

bahasa cinta

Contohnya :

Bahasa cinta saya adalah word affirmation. Saya paling suka dipuji, diapresiasi, diberi kata-kata positif dll”. Maka pasangan saya, bisa memberikan itu setiap saat. Misalnya, ketika saya mendapatkan prestasi, melakukan sesuai dengan baik, sudah membantu pasangan dll.

Istri saya, bahasa cintanya tangible gift, maka saya sebisa mungkin untuk memberikan kebutuhan itu untuk memberikan hadiah, membawa oleh-oleh ketika pulang dari luar kota. Tidak harus yang mahal, bagi mereka yang bahasa cintanya ini, apapun hadiahnya akan berarti bagi dirinya.

Setiap orang memiliki1 atau 2 bahasa cinta yang tinggi dalam dirinya. Tugas kita memberitahukan itu kepada pasangan kita agar pasangan kita mengetahuinya, tahu bagaimana dia memberikan bahasa cinta kepada kita dan menjadi bekal kedepannya.

Selain bahasa cinta, hal lain yang perlu disesuaikan adalah Value dan Prinsip masing-masing. Prinsip dan Value setiap orang berbeda. Bersyukur jika pasangan kita value dan prinsipnya sama dengan kita. Itu lebih mudah dan menguntungkan.

Lalu, bagaimana jika berbeda?

Kuncinya adalah saling menerima, memahami dan tidak menjadikan itu sebagai jurang perbedaan yang memicu pertengkaran.

foto ama panitia

Di akhir tulisan saya ini, saya ingin mengajak pembaca untuk refleksi diri (bertanya kepada diri dan hati masing-masing.

Sudahkah saya menerima pasangan saya dengan 100%?

Sudahkah saya “mengelola ego” saya untuk menjadikannya ‘Ego bersama” untuk kedepannya? Atau saya masih mengedapankan ego saya sendiri?

Sudahkah saya siap lahir batin untuk mempertahankan komitmen, intimacy, passion kita untuk pasangan kita.

Dan banyak lagi hal lain yang mungkin perlu kita tanya kepada diri masing-masing dari kita. Semoga pembaca semua dimudahkan dalam proses persiapan pernikahan atau menjemput jodohnya.

 

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra