Merantaulah! Kau Akan Dapatkan Pengganti dari Kerabat dan Kawan

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang (Imam Syafi’I 787-820 M)

Bersama Anak Murid

Bersama Anak Murid SDN 38 Sekodi, saat bertugas menjadi Pengajar Muda, Desa Sekodi, Kabupaten Bengkalis, Riau, Indonesia

 

Kata-kata Imam Syafi’i sudah saya buktikan sendiri sejak saya mulai meninggalkan kampung halaman. Pertama kali saat saya SMP saya melanjutkan pendidikan ke SMP yang notabene berbeda kecamatan dan kabupaten dengan desa dimana desa dibesarkan. Di sana saya mendapatkan teman dan sahabat baru dari berbagai desa sehingga memperluas jaringan pertemanan dan persahabatan dibanding sebelumnya.

Ketika saya SMA, saya hijrah ke kota tinggal bersama orang tua asuh saya untuk melanjutkan pendidikan di SMA 1 Kudus. Di sinilah saya merasakan bahwa saya memiliki keluarga baru (di luar keluarga dan kerabat sedarah saya). Orang tua asuh saya adalah Guru saya ketika SMP. Almarhum Abah Mustaqim dan Ibu Siti Zubaedah beserta keluarga besarnya menjadi keluarga baru bagi saya. Saya memiliki adik-adik dan kakak-kakak baru dengan tinggal bersama beliau. Beliau sekeluarga sudah menjadi keluarga saya sendiri.

Tahun 2008, mengharuskan saya hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Paramadina Jakarta. Alhamdulillah dengan beasiswa Paramadina Fellowship 2008 kesempatan untuk merasakan pendidikan tinggi dapat saya rasakan setelah berjuang selama dua tahun. Di Jakarta, saya tinggal di asrama bersama dengan 23 penerima beasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Selama tinggal asrama dan semasa kuliah, saya menemukan banyak sahabat yang saling peduli bahkan seperti keluarga sendiri. Salah satunya adalah Risyad, yang merupakan salah satu penerima beasiswa Paramadina dimana dulunya kami tinggal satu kamar dengan beberapa teman di asrama. Setelah lulus, saya diberi kehormatan dan kesempatan untuk tinggal di rumah orang tuanya.

 

Risyad dan Mas Kris, keluarga baru di Jakarta

Risyad dan Mas Kris, keluarga baru di Jakarta

 

Setelah satu tahun sejak lulus tinggal di rumah Risyad, saya memutuskan untuk merantau ke Bengkalis melalui Gerakan Indonesia Mengajar. Saya menjadi Pengajar Muda dan mendapat tugas di Desa Sekodi, Bengkalis, Riau. Di sanalah saya tinggal bersama keluarga Bapak Yahya yang begitu hangat, ramah dan terbuka menerima saya sebagai bagian dari anak mereka. Saya benar-benar merasakan kehangatan keluarga seperti keluarga sendiri. Banyak kebersamaan yang mungkin tidak cukup saya tuliskan satu persatu. Ibu saya rela bangun tengah malam untuk menyiapkan makanan sahur saat saya sedang menjalankan ibadah puasa sunnah. Bapak dan adik saya rela menjemput saya malam-malam saat motor saya bermasalah di hutan. Beliau selalu bertanya kabar dan khawatir saat saya pulang malam karena jalanan yang belum bagus dan gelap karena belum ada listrik. Saat pagi beliau sudah menyiapkan saya sarapan sebelum berangkat mengajar ke sekolah. Sudah lebih dari dua tahun sejak saya selesai bertugas, kami tetap berkomunikasi dan berkirim kabar. Mereka sering menelfon saya jika saya lama tidak berkirim kabar.

Host Fam saya saat bertugas di Desa Sekodi, Bengkalis, Riau

Host Fam saya saat bertugas di Desa Sekodi, Bengkalis, Riau

 

Tidak hanya keluarga beliau saja. Di Bengkalis saya juga merasakan banyak sekali keluarga yang begitu baik dan hangat menerima saya. Hampir di setiap desa dan kota saya memiliki kenalan yang bisa saya tumpangi hanya sekedar untuk mandi, tidur atau bahkan melepas penat saat perjalanan jauh. Inilah Indonesia dengan keramahtamahannya. Inilah Indonesia dengan kekerabatannya.

Seluruh teman Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar yang sekarang tersebar di berbagai kota bahkan luar negeri menjadi teman, sahabat dan keluarga baru bagi saya. Teman-teman Pengajar Muda Bengkalis yang selalu support untuk dalam hal kebaikan dan kemajuan.

Pengajar Muda V Bengkalis

Keluarga Baru Pengajar Muda V Bengkalis

 

Balik ke Jakarta tahun 2014 sampai sekarang, saya masih tinggal di rumah Risyad (teman dan sahabat saat kuliah di Paramadina). Saya tidak tahu kapan akan keluar dari rumah ini, yang pasti Risyad dan keluarga sudah menjadi bagian orang-orang yang mewarnai perjalanan hidup saya. Saya merasakan bahwa kebaikan orang-orang di sekeliling membuktikan bahwa mereka lebih dari sekedar teman atau sahabat. Mereka semua seperti keluarga sendiri. Itulah mengapa, saya percaya bahwa sahabat sejati memiliki peran dan kontribusi yang mungkin hampir sama dengan keluarga.
———————————————————————————————————————————

Sedikit kisah di atas menjadi gambaran sekaligus bukti nyata apa yang Imam Syafi’i katakan. Merantau dan keluar dari zona nyaman membuatku produktif dan selalu bergerak untuk sesuatu yang lebih baik. Bagaimana tidak, ketika dulu saya di kampung halaman, saya dekat dengan kenyamanan. Mau makan tinggal makan, tidak bekerja bisa makan bersama keluarga dan lain sebagainya.

Merantau menjadikan diri lebih dewasa, membukakan mata dan wawasan, belajar akan kehidupan, memperkaya diri dengan pengalaman, bertemu banyak orang dengan berbagai latar belakang, mandiri dalam setiap tindakan. Jika ada masalah dan tantangan harus diperjuangkan.

Saya percaya bahwa kebaikan yang kita tanamkan kepada setiap orang dimanapun kita berada akan menjadi bekal dan modal dalam perjalanan hidup kedepan. Saya masih ingat kata-kata Kepala Sekolah di Desa Sekodi, Desa dimana dulu saya pernah mengabdi di sana. Beliau berkata “Jika ada orang yang merantau, sambut, terima dan bantulah jika mereka butuh bantuan. Dengan begitu, saat anak cucu kita nanti merantau pasti banyak orang yang menerima dan membantunya jika mereka ada kesulitan”. Tidak heran jika pada suatu ketika mereka akan membuka pintu silaturahmi dan persaudaraan.

Saya percaya bahwa keluarga bukan hanya keluarga kandung dan sedarah, keluarga termasuk mereka yang hadir dengan tulus ikhlas menerima dan membantu kita layaknya keluarga mereka sendiri. Hal tersebut saya simpulkan sepanjang perjalanan hidup saya sampai sekarang. Saya bersyukur bertemu dengan banyak orang yang tidak ada hubungan darah, belum berjumpa sebelumnya, berbeda suku dan budaya, namun mereka begitu hangat, tulus ikhlas untuk membangun persaudaraan.

Saya teringat dengan tulisan yang pernah di tulis oleh Bapak Thamrin Dahlan yang bercerita tentang persaudaraan lebih penting dari pada saudara kandung menjelaskan bahwa ada 4 tipe manusia dalam konteks saudara dan persaudaraan:

  1. Saudara yang menunjukkan persaudaraan. Inilah surga.
  2. Bukan saudara namun menunjukkan persaudaraan. Ini adalah kebahagiaan (happiness)
  3. Bukan saudara dan tidak menunjukkan persaudaraan. Ini disebut ketidak bahagiaan (unhappiness)
  4. Saudara tapi tidak menunjukkan persaudaraan. Inilah neraka.

Tentunya hidup akan menjadi bahagia dan surga ketika nomor satu dan nomor dua di atas kita miliki. Memiliki saudara yang menunjukkan persaudaraan sekaligus mereka yang menunjukkan persaudaraan walaupun bukan saudara.

Salah satu cara jika kita ingin merasakan persaudaraan adalah dengan merantau meninggalkan zona nyaman kita. Teringat pepatah “There is no growth in comfort zone, there is no comfort in growth zone”, sayapun mengamini dengan iman kebenarannya. Terlalu nyaman terkadang membuat diri terlena untuk terus bergerak, tumbuh dan berkembang.

Dalam perspektif psikologi, seorang perantau dihadapkan dengan lingkungan social yang berbeda dengan lingkungan sebelumnya. Perubahan social tersebut menuntut seorang perantau untuk menyesuaikan diri dan mendorong kedewasaan. Merantau bisa merupakan ajang pembuktian kualitas diri untuk lebih mandiri, bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan dan mengambil keputusan.

Saya terus mendorong anak murid saya dan adik-adik di Gerakan Tunas Bangsa untuk merani merantau meninggalkan kampung halaman. Bukan karena apa, agar mereka bisa melihat dunia selain desa atau kabupaten dimana mereka dibesarkan. Mereka belajar akan kehidupan. Menurut saya, merantau mengajarkan kita kepada banyak hal. Beberapa yang bisa kita dapatkan adalah selama merantau adalah :

Membentuk karakter diri menjadi lebih mandiri dan memiliki daya juang yang besar

Saat sendiri, dorongan untuk terus bertahan dengan segala keadaan semakin besar. Bagaimana tidak? Bagaimana kita bisa makan, jika tidak berusaha mencari makan sendiri. Jika dulu masih bisa makan tanpa berusah payah karena sudah disiapkan oleh keluarga. Paling tidak dengan merantau kita harus mengeluarkan tenaga dan biaya untuk mendapatkannya. Kita dituntut untuk mengatur pola kehidupan sendiri, termasuk mengelola keuangan yang kita dapatkan.

Memperluas kesempatan dan menambah banyak rekanan

Contoh sederhana untuk poin ini adalah ketika memilih pekerjaan, sekolah atau tempat kuliah. Jika kita membatasi diri misalnya saya hanya mau bekerja di Semarang. Maka kesempatan yang ada hanyalah yang dibuka di Semarang saja. Namun, jika kita perlebar area bahwa saya bersedia bekerja dimana saja seluruh Indonesia. Maka kesempatan akan semakin besar dan peluang semakin banyak. Di desa saya mendorong pemuda untuk berani keluar dari desanya. Tidak ada maksud apa, agar mereka bisa mendapatkan banyak kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Jika di desa, pilihan yang ada sangatlah sedikit sepeti bekerja di kebun, di sawah, menjadi pamong desa.

Menghargai akan arti keluarga, persaudaraan dan pertemanan

Jauh dari keluarga menjadikan kita tahu betapa berartinya sosok keluarga bagi diri kita. Selain itu, kondisi jauh dari keluarga mendorong diri untuk menemukan peran pengganti keluarga; dalam hal ini teman, sahabat yang bisa melengkapi sosok keluarga. Bagi kita, merekalah keluarga baru kita.

Mendorong untuk selalu meningkatkan kualiatas diri

Merantau jika tidak diimbangi dengan keterampilan, lambat laun tidak akan bertahan menghadapi tuntutan keadaan. Kondisi ini menuntut kita untuk terus meningkatkan keterampilan agar bisa bertahan dan bersaing dengan perubahan. Saya yakin bahwa mereka yang merantau tidak pergi dengan “tangan kosong” tanpa “bekal” untuk bertahan.

DSC_2423_2

Bersama Keluarga Gerakan Tunas Bangsa

 

Terimakasih kepada semua teman, sahabat, saudara yang sudah menunjukkan persaudaraan. Semoga kebahagiaan selalu menemani setiap langkah perjalanan kita kedepan. Semoga Tuhan senantiasa memeluk dan menjaga niat baik kita untuk terus berbuat baik dalam setiap kesempatan.

Hidup adalah pilihan, termasuk memilih untuk merantau atau hidup di kampung halaman. Ketika masih muda, mari gunakan waktu untuk belajar akan arti kehidupan, lukis dan tuliskanlah petualangan hidupmu untuk bekal cerita anak cucu. Dunia ini tidak selebar daun kelor atau layar HP yang kita genggam. Mari buktikan dan rasakan betapa indahnya dunia, hangatnya persaudaraan, surganya keluarga, manisnya perjuangan dengan merantau ke negeri orang.

 

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra

“Menolong Tanpa Minta Nama, Tuhan Beserta Kita”



2 Responses to “Merantaulah! Kau Akan Dapatkan Pengganti dari Kerabat dan Kawan”

  1. krisnadi says:

    Jalani Hidup dgn Tawakal dan Optimis. Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung.

    • suhariyantoputra says:

      Sepakat Mas Kris.. Matur Suwun, insya Allah wejangan tersebut menjadi bekal dimanapun berada tetap menjunjung tinggi adat istiadat setempat.

Leave a Reply