Menjadi Karyawan Bernilai

Slide5

Dikisahkan seekor cacing yang berteman dengan seorang Dewa. Sang Dewa melihat cacing selalu bergumul dengan kotoran apapun yang ditemuinya. Dewapun amat kasihan dan mengajak cacing untuk mengubah hidupnya. Namun, cacing sungguh nyaman dengan kotoran kesayangannya dengan menolak ajakan Dewa.

(Disadur dari Buku Ajahn Bram, yang berjudul si Cacing dan Kotoran Kesayangannya)

Mungkinkah hidup kita sebenernya sudah menjadi zona nyaman? Yang bahkan kelihatannya nyaman, sudah bagus, merasa sudah memberikan hal terbaik, sudah saking nyamannya sehingga kita tidak merasa bahwa apa yang kita lakukan biasa-biasa saja tersebut mengancam masa depan kita, mengancam karir kita.

Saking nyamannya dengan rutinitas yang sebenernya “begitu-begitu saja” sehingga kita tidak membutuhkan perubahan? atau bahkan menolak adanya perubahan?

Marilah lihat diri kita! Beri Nilai termahal untuk diri kita sendiri! Dengan memberikan nilai terbaik tersebut, maka nilai-nilai lebih akan kita dapatkan. Apakah selama ini kita hanya memberikan nilai seharga seorang karyawan yang biasa saja? Atau karyawan yang memberikan nilai lebih?

Coba renungkan paragraf di bawah ini!

Bila Anda digaji Rp 10.000.000,00 oleh perusahaan. Namun Anda bekerja seperti bergaji Rp 20.000.000,00, maka Allah akan membayar lebihnya dengan kesehatan, karir, keluarga sejahtera dan semisalnya. Namun, bila Anda bekerja seperti orang bergaji Rp 5.000.000,00 maka Allah pun akan menuntut sisanya dengan memberimu kesusahan hutang, kesempitan dan semisalnya. Jadi, bekerjalah maksimal, ikhlaslah, yakinlah dan perhatikan apa yang akan Allah buat untuk kejayaanmu. (Haikal Hasan)

Lalu, apa hubungannya mereka dengan kita?

Jelas ada hubungannya. Mari tanyakan kepada diri kita. Sudahkah kita memberikan yang terbaik selama kita bekerja? Atau malah sebaliknya? Apakah kita mengeluh dengan pekerjaan kita? Mengeluh atas gaji yang kita peroleh? Mengeluh atas beban kerja dan tantangan kerja yang kita hadapi?

Tidakkah kita berpikir bahwa di luar sana begitu banyak orang yang siap menggantikan posisi kita? Ketika kita berhenti bekerja, perusahaan tinggal mencari pengganti kita. Adakah alasan untuk kita bekerja biasa-biasa saja? Padahal kita tahu bahwa apa yang kita berikan, itulah yang akan kita dapatkan.

Memang tidak semua dari kita sadar atau bahkan terlena dengan keadaan sehingga menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. Buat apa kerja keras, toh tiap akhir bulan kita gajian? Buat apa berdedikasi, yang lain juga tidak menunjukkan dedikasi yang lebih? Ikut sajalah yang lainnya. Gampang, gak perlu ribet-ribet amat.

Apakah kita berpikir demikian juga?

Setuju dengan apa yang dikatakan Prof. Renald Kasali dalam buku self-driving bahwa dari sejumlah orang yang menekuni profesi tertentu, hanya kurang dari 2% yang benar-benar serius dan mengembangkan dirinya. Yang lain terperangkap dalam mentalitas penumpang yang memilih untuk menunggu. Memilih untuk diam, menjadi biasa-biasa saja. Padahal, jika kita mau berusaha, melakukan perubahan, memberikan sesuatu yang lebih dibandingkan orang lain. Kita akan mendapatkan lebih dari yang orang lain dapatkan.

Coba kita analogikan bersama. Jika kita diberikan tanggung jawab 10 di perusahaan. Kenapa kita tidak berusaha memberikan 20, 30 atau 50? Mengapa kita hanya memberikan 10 kalo kita bisa memberikan lebih? Tidakkah kita berpikir bahwa semakin banyak kita berkonstribusi dalam pekerjaan kita, kita akan menabung sekaligus menciptakan peluang untuk terus tumbuh dan berkembang. Peluang karir terbuka lebar bukan?

Kita mungkin sepakat bahwa mereka yang dikatakan sebagai Talent adalah mereka yang memiliki karakter bagus artinya memiliki mental sebagai seorang drivers (supir). Pribadi yang suka dengan tantangan baru, melihat tantantangan sebagai peluang, selalu belajar tentang hal baru, jujur, penuh tanggung jawab, integritas dan komitmen dalam menjalankan pekerjaannya.

Selain nilai-nilai, karakter diri yang bagus, mereka juga menunjukkan performa yang bagus. Artinya mereka mampu menunjukkan bahwa mereka bisa bekerja dengan memberikan lebih dari apa yang diharapkan.

Jadi, mau pilih yang mana? Karyawan biasa? Karyawan luar biasa? Karyawan yang punya “value”? Pilihan ada di tangan kita! Berikan nilai terbaik dimanapun kita berada. Tunjukkan bahwa Anda memiliki potensi untuk terus tumbuh berkembang, siap menerima segala tantangan untuk membantu keberhasilan Perusahaan!

 

Jakarta, 14 Maret 2019

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra