Keluargaku Di Desa Sekodi, Bengkalis

WhatsApp Image 2018-01-02 at 11.19.35 AM (1)

“Keluarga merupakan pondasi awal sekaligus “pelukis awal” hidup kita; berperan penting dalam pembentukan diri serta pencapain di masa depan”

Banyak hal yang aku rasakan dan dapatkan di desa ini selama bertugas menjadi Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar di tahun 2012 – Desember 2013. Bahkan sampai saat ini, ketika aku datang lagi kesana untuk kedua kalinya selepas penempatan, memori dan emosi seakan-akan mengingatkan kembali saat masih menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat di sana. Salah satu yang aku dapatkan ketika di sana adalah keluarga. Banyak sekali sosok keluarga di sana. Di tulisan ini, aku akan cerita keluarga dimana aku tinggal selama 14 bulan di desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Riau.

Di keluarga ini aku punya Bapak, Ibu dan ketiga adik baru. Kebetulan adikku laki-laki semua. Bapakku bernama Yahya, beliau adalah ketua RT di Dusun Tanjung Sekodi sampai saat ini. Beliau asli Melayu sehingga bahasa melayu-nya sangatlah kental. Sebulanan aku disini, aku masih sedikit “roaming” dengan Bahasa Melayu. Masih belajar dan mencoba mengerti tentang Bahasa yang sehari-hari digunakan di sini. Namun, lambat laun akhirnya aku bisa memahami bahasa Melayu walaupun tidak fasih ketika berbicara dengan bahasa Melayu. Sehari-hari beliau berprofesi sebagai nelayan. Setiap pagi beliau pergi ke laut untuk menjaring ikan, menjualnya ke Kedai (warung) dan beberapa dimakan dan di shodaqohkan kepada sanak keluarga.

WhatsApp Image 2018-01-02 at 11.19.35 AM (2)

Aku kenyang dengan ikan laut karena sehari-hari kami sekeluarga makan ikan laut hasil Bapak mencari ikan. Ketika sedang musim Ikan, pastinya kita semua senang karena rezeki mengalir terus, makanan siap sedia dengan berbagai jenis ikan. Sedihnya jika tidak musim ikan atau gelombang atau angin kencang sehingga Nelayan tidak pergi melaut. Alhasil, kami makan makanan yang lain, seperti telor, sarden atau simpanan ikan yang sudah dikeringkan. Terkadang dulu aku juga kangen makanan seperti tahu, tempe, pecel sayur, mendoan, mie jawa, dll. Pernah suatu ketika aku ninggalin pesan ke Ibu yang jualan di kedai dekat sekolah “Bu, kalo ada tahu tempe, kabarin saya ya Bu!” karena saking pengennya makan tahu tempe.

Ibuku bernama Seri. Beliau asli suku Jawa dari daerah Kediri, Jawa Timur. Namun karena beliau sudah lebih dari 26 tahun tinggal di masyarakat Melayu, membuat beliau agak kesulitan berbahasa Jawa. Lidah sudah tersetting Bahasa Melayu. Untuk memahami bahasa Jawa, beliau pasti sangat paham, namun untuk membalas percakapan mungkin agak susah karena tidak terbiasa. Setiap aku pancing dengan bahasa Jawa beliau selalu membalas dengan Bahasa Melayu. Bahasa memang masalah kebiasaan. Jika kita terbiasa dengan bahasa tertentu, untuk menggunakan bahasa yang lain, pastinya agak kaku. Tak jauh beda dengan yang dulu, sampai saat ini, Bapak masih beraktivitas seperti dulu sebagai Nelayan, sedangkan Ibu yang mengatur semua kebutuhan dan apa yang ada di rumah.

WhatsApp Image 2018-01-02 at 11.19.35 AM (3)

Selain Bapak & Ibu, tentunya ada anak-anaknya yang menjadi saudara baruku. Adikku ada tiga, pertama bernama Yusuf. Sekarang dia sudah berumah tangga dan memiliki anak bernama Nurul yang berusia kurang lebih 10 tahun yang sedang lucu-lucunya. Dia sekarang tinggal di rumahnya sendiri bersama keluarga kecilnya. Terkadang dia bekerja ke Malaysia atau ikut Bapak membawa kapal mencari ikan di laut. Yusuf adalah sosok saudara yang baik, dulu dia sering mencuci motor teman setiaku ketika kotor, selalu memparkir motor ke dalam rumah ketika malam. Padahal aku tidak pernah minta tolong. Inisiatifnya sangat tinggi sekali. Terkadang menjemput aku saat motorku bermasalah di tengah perjalanan pulang ke Sekodi.

Adik yang kedua bernama M. Khairi atau akrab disapa Mamat. Dulu waktu SD, aku sempat menjadi guru untuk kelasnya. Saat pertama kali mengajar, dulu Dia masih duduk di kelas 4 SD. Sekarang sudah kelas 3 SMP. Cepat sekali ya waktu berjalan. Adikku yang satu ini juga gak kalah perhatian, selalu menawariku dengan banyak hal, misalnya ketika makan kepedesan, dia selalu menawari minuman. Ketika sedang ngobrol masalah makanan, pasti selalu menawari. Pernah suatu ketika sedang ngobrolin masalah “Jambu Gelas”, yaitu jambu air warna putih dengan ukuran yang sebesar gelas. Jambu ini hanya tetangga samping rumah yang punya. Di sela-sela mengobrol dia menawarkan jambu itu “Bapak mau jambu gelas?”. Aku bilang “Enggak”. Tiba-tiba dengan inisiatifnya dia datang ke tetangga sebelah rumah tanpa sepengetahuanku dan pulang membawa kresek berisi beberapa jambu gelas untukku. Jadi tersentuh kan? Tentunya banyak lagi momen-momen lainnya yang berkesan.

Sekarang dia sekolah di salah satu SMP/MTS di Kota Bengkalis dan tinggal di Pondok Pesantren. Sebuah prestasi tersendiri karena dia sudah berlatih mandiri, jauh dari orang tua, mengatur waktu sendiri dengan kesibukan sekolah, kesibukan di pondok dan kegiatan pribadinya. Prestasinya juga tidak kalah dengan teman-temannya, semester kemarin dia mendapatkan ragking 3 paralel. Bagi saya sebuah prestasi besar bagi Mamat yang datang dari Desa paling ujung dan bersaing dengan rekan-rekan satu angkatannya di Kota Bengkalis. Tahun ini dia akan lulus SMP dan tentunya melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Oh iya, sekarang dia sudah pandai bermain sosial media karena tinggal di kota dimana signal juga bagus. Jadi aku bisa berkomunikasi melalui Facebook, Whats App atau berbagi kabar melalui media foto dan video. Kemajuan teknologi memang mendekatkan kami.

Adikku yang terakhir, namanya Ivan. Dulu saat aku masih bertugas di sana, Ivan berusia sekitar 3.5 tahun. Lucu dan menggemaskan. Dia selalu mencari dan menanyakan keberadaanku ketika aku tidak di rumah. Selalu mengikutiku ketika pagi, makan di depanku sembari ngajak ngobrol. Dia selalu cemburu jika aku memberikan perhatian lebih ke abangnya (si Mamat). Kadang kalo aku pergi berdua dengan Mamat, Ivan selalu protes ke Ibu, bahwa aku tidak adil, karena cuma Mamat saja yang diajak, sedangkan dia tidak. Sebelum pergi ke sekolah, biasanya aku selalu mencium tangan Ibu dan salaman (jabat tangan) dengan Ivan. Suatu ketika aku tidak salaman dengannya, dia langsung protes ke Ibu. “Bu, aku tidak disalamin”, begitu kira-kira celotehnya yang disampaikan dengan Bahasa Melayu. Terkadang jika Ibu dan Bapak sedang ke kota atau menginap di rumah orang, si Ivan bilang ke Ibu “Mak, nanti Om makan gimana mak, kalo Emak gak pulang, siapa yang masakin?”.

WhatsApp Image 2018-01-02 at 11.19.35 AM

Beda cerita dengan Ivan yang sekarang, dia sekarang sudah duduk di kelas 3 SD. Sudah tumbuh besar dan menjadi anak yang patuh. Saat kemarin datang, aku coba untuk mengetahui seberapa lancar dia membaca. Ternyata sudah pandai membaca. Bahkan katanya sudah sampai Al-Qur’an ngajinya. Semoga Mamat dan Ivan bisa terus belajar dan sekolah setinggi-tingginya dan bisa menggapai cita-citanya.

Itulah sedikit gambaran tentang keluargaku di sini. Keluarga yang begitu hangat memancarkan kasih sayang kepada semua anggota keluarga. Keluarga yang kaya akan warna yang menjadikannya indah, damai dan sejahtera. Di keluargaku ini aku menemukan cinta, kasih serta ketulusan yang membuatku selalu tersenyum lebar setiap kali aku datang kesana. Semoga suatu saat bisa bercengkerama lagi dengan mereka.

 

Jakarta, 2 Januari 2018

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra