Ini Bukan Tentang Saya. Ini Tentang Mereka, Tunas Bangsa Indonesia

DSC_2423_2

“Kak Suhar, mengapa kakak waktu itu meng-inisiasi Gerakan Tunas Bangsa?”

Sebuah pertanyaan pernah saya dapatkan dari beberapa sahabat-sahabat saya. Bagi saya pribadi, pertanyaan di atas cukup sulit untuk dijawab karena harus menjelaskan secara jelas cerita dibalik hadirnya inisiasi Gerakan Tunas Bangsa lahir. Ini bukan tentang diri saya saja, tetapi tentang Tunas-Tunas Bangsa Indonesia. Gerakan Tunas Bangsa lahir, bukan karena jerih payah saya semata, tetapi karena dukungan, kerjasama, sinergi dari semua pihak yang ikut andil menggerakkan Gerakan ini. Merekalah keluarga besar Gerakan Tunas Bangsa.

Jujur, Gerakan Tunas Bangsa merupakan sebuah inisiasi sosial yang muncul sebagai produk perjalanan hidup yang saya alami serta melihat tantangan sosial yang ada di sekeliling saya. Mungkin tidak bisa menjawab semua tantangan yang ada, paling tidak memberikan sedikit kontribusi terhadap tantangan sosial yang ada.

Selama saya hidup di dunia ini yang hampir 30 tahun, saya belajar banyak hal. Perjalanan hidup saya merupakan kampus kehidupan dimana mengajarkan berjuta-juta pengalaman berharga yang menjadikan saya seperti sekarang ini. Banyak sekali pembalajaran dan turning point yang saya dapatkan. Salah satu turning point hidup saya adalah berhasil mendapatkan beasiswa S1 di Universitas Paramadina, Jakarta melalui program Paramadina Fellowship. Melalui beasiswa tersebut, akhirnya saya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi setalah dua tahun berjuang dan sempat menjadi karyawan di Polytron Kudus. Perjuangan yang mengajarkanku akan arti kegagalan, mengajarkan diri untuk terus positif dalam memaknai proses kehidupan baik yang suka maupun duka.

Beasiswa S1 tersebut mengantarkan saya menjadi seperti sekarang ini. Menjadi Mahasiswa dan lulus S1 mengantarkan diri saya mendapatkan banyak kesempatan untuk mengenal dunia luar yang belum saya tahu sebelumnya, menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam pemikiran dan pemecahan masalah, mengangkat derajat sosial dan ekonomi saya dan banyak lagi yang lainnya.

Saya masih ingat saat saya bekerja menjadi karyawan dengan gaji UMR sebulan di tahun 2006-2008. Jika saya ambil rata-rata sehari upah yang saya dapatkan senilai 30-40 ribu rupiah untuk delapan jam bekerja. Namun, setelah saya kuliah di Universitas Paramadina, akhirnya saya bisa mendapatkan upah 40rb dengan mengajar selama 1.5 jam di lembaga bimbingan belajar. Bahkan saya bisa mendapatkan lebih besar lagi ketika menjadi asisten dosen dan akhirnya saya bekerja dengan modal S1 yang saya berhasil raih. Oleh karena itu, saya begitu menghargai Gelar dibelakang nama saya karena saya mendapatkannya atas jerih payah dan usaha keras untuk medapatkannya.

Saya tidak menekankan pada jumlah uang yang bisa saya dapatkan saat menjadi Mahasiswa S1 atau ketika menjadi Sarjana. Hal yang ingin saya tekankan di sini adalah pembelajaran hidup yang saya dapatkan, ilmu, pengalaman, kesempatan bertemu orang-orang sukses, jaringan pertemanan, terbukanya banyak peluang seperti mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, ikut andil dalam beberapa aktivitas yang mensyaratkan minimal mahasiswa atau sarjana. Coba bayangkan ketika saya masih lulusan SMA, kesempatan yang ada tentunya terbatas dan nilaipun juga standar lulusan SMA.

Saya sadari bahwa saya bisa mendapatkan beasiswa di Universitas Paramadina saat itu karena Allah SWT yang mengabulkan do’a, usaha, tekad yang saya berikan saat itu. Namun, jika boleh saya berkaca dan menilai perjalanan hidup saya kebelakang, saya bisa berkata bahwa pengalaman saya di SMP, SMA itu menjadi bekal dan menguatkan sayap saya untuk bisa terbang lebih tinggi, lebih jauh dan berani bersaing dengan rekan-rekan saya yang lain yang memperebutkan beasiswa tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa saya merupakan sosok yang bagus ketika SMP dan SMA; tetapi pengalaman yang saya dapatkan ketika SMP dan SMA tersebut menjadikan diri saya semakin baik dan matang. Menjadi selling point saya saat berjuang mendapatkan beassiswa.

Jadi, pengalaman di SMP dan SMA itu penting ya untuk kedepannya?

Menurut saya, pengalaman di jenjang SMP dan SMA sangatlah penting. Pengalaman di SMP dan SMA akan menentukan langkah kita kedepan. Jika kita bagus ketika SMP dan SMA (baik akademik maupun non-akademik) maka akan memudahkan langkah kita kedepan. Untuk bisa memasuki kampus terbaik, mendapatkan beasiswa, tentunya butuh modal yang bagus, karakter yang kuat, value yang kuat agar menjadi selling point diri kita dibandingkan lulusan SMA yang lainnya.

Pada masa SMP dan SMA, saya kekurangan sosok yang mengarahkan saya untuk mengembangkan bakat dan potensi yang saya miliki. Mungkin karena saya lahir dan besar di keluarga yang notabene tidak berpendidikan. Kedua orang tua saya, dua-duanya lulusan SD dan kakak saya lulusan SMP. Namun, saya sangat bersyukur karena Allah masih memberikan motivasi besar dalam diri untuk terus belajar dan meraih pendidikan tinggi. Walaupun dalam kondisi yang serba sederhana, motivasi dan mimpi besar yang saya miliki mendorong diri saya untuk terus optimis memandang masa depan.

Saya lahir dan besar di keluarga yang sederhana. Allah SWT memberikan ujian untuk saya dan keluarga.  Saat saya lahir kedunia, Ibu saya sakit, tidak bisa berjalan selama belasan tahun sampai akhirnya beliau meninggal. Ayah saya adalah sosok tulang punggung yang menghidupi saya sekeluarga. Saat itu, sosok Ibu, mungkin saya rasakan sepenuhnya saat itu. Namun saya bersyukur, kondisi itu menjadikan saya menjadi pribadi yang mandiri sejak kecil. Saya masih ingat ketika saya kelas 3 SD, saya harus mandi, menyiapkan seragam, memakai seragam, berangkat sekolah sendiri. Jika saya sakit, saya berusaha untuk menyembuhkannya sendiri. Misalkan ketika badan saya terasa panas, saya coba untuk meng-kompres sendiri, membeli obat di warung dengan harapan saya bisa sembuh kembali. Saya tidak akan bilang kepada orang tua atau keluarga ketika saya masih bisa bertahan dan bisa berbuat sesuatu untuk diri saya sendiri.

Dalam perjalannya, akhirnya saya bertemu dengan sosok orang tua yang begitu baik dan peduli. Beliau-beliau adalah guru saya ketika SMP yang sekarang menjadi sosok orang tua bagi saya. Umi Siti Zubaedah dan Almarhumah Abah Mustaqim merupakan kedua orang tua yang sudah mengantarkan saya untuk bisa melanjutkan pendidikan di SMA 1 Kudus. Sekolah favorit di Kudus sekaligus sekolah impian saya sejak SMP. Saya sangat bersyukur ketika SMP saya mendapatkan beasiswa dari mulai kelas 1 sampai lulus karena prestasi yang saya capai, yaitu ranking 1 Paralel. Saya merasa hidup saya penuh dengan keberkahan dan kemudahan. Saya dikelilingi banyak sekali orang-orang baik yang peduli dengan pendidikan dan membantu mengembangkan potensi yang saya miliki. Peran mereka begitu besar dalam proses perjalanan hidup saya sampai sekarang. Guru-guru dan sosok pembimbing itulah yang menentukan keberhasilan yang saya dapatkan saat itu (mendapatkan beasiswa S1).

Saya semakin menyadari pentingnya sosok yang membimbing ketika saya bergabung menjadi Pengajar Muda di Desa Sekodi, Bengkalis. Menjadi guru di daerah terpencil menjadikan saya terdorong untuk berbuat sesuatu untuk mereka. Saya bertemu dengan tunas-tunas bangsa yang begitu haus akan belajar, memiliki potensi besar untuk dikembangkan agar menjadi lebih baik kedepannya. Saya dan teman-teman Pengajar Muda lainnya mencoba mengajar, membimbing dengan hati untuk bisa memaksimalkan potensi anak didik kami. Tak jarang, beberapa anak-anak kami berhasil menjadi semi finalis, finalis dan atau menjuarai lomba baik tingkat Kabupaten, Provinsi maupun Nasional. Sebuah prestasi yang mungkin bagi sebagaian guru atau orang tua murid yang lain mengatakan “tidak mungkin” untuk dicapai. Namun dengan bimbingan sosok guru yang inspiratif, mau membimbing dengan hati akhirnya pelan-pelan bisa mengembangkan potensi baik tunas-tunas bangsa ini.

Saya tidak ingin, anak-anak yang memiliki potensi baik ini tidak dikembangkan. Mereka butuh sosok yang mau membimbing, mengarahkan dan menunjukkan jalan kemana mereka seharusnya sehingga mereka memahami potensi besar yang mereka miliki, menyadari pentingnya mimpi. Pentingnya usaha untuk mewujudkannya serta memiliki keyakinan bahwa apapun yang menjadi mimpi mereka bisa terwujud.

Lalu apa kaitan pengalaman di atas dengan Gerakan Tunas Bangsa?

Wajah Mentee

Gerakan Tunas Bangsa adalah sebuah inisiasi sosial yang lahir untuk membimbing, menuntun, membekali dan memberikan sejumlah donasi untuk membantu siswa-siswi dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga mereka lebih berprestasi dan siap menghadapi tantangan pendidikan yang lebih tinggi. Tunas Bangsa merupakan kependekan dari Tuntun Anak Bangsa, Bantu Gapai Beasiswa. Gerakan Tunas Bangsa menjadi tempat berkumpulnya siswa-siswi berpotensi serta tempatnya mentor (pembimbing) yang nantinya mereka akan berinterasi satu sama lain untuk mendorong siswa-siswi (mentee) agar terus optimis memandang masa depan dan mewujudkan mimpi-mimpi mulianya. Saya dan rekan-rekan relawan/donatur di Gerakan Tunas Bangsa ingin anak-anak yang berpotensi ini berhasil dan sukses suatu saat nanti.

Lalu, siapa yang bisa menjamin mereka sukses?

Tidak ada yang menjamin kesuksesan tersebut, apa yang saya dan relawan/donatur lakukan adalah sebuah ikhtiar, usaha nyata untuk menyiapkan mereka yang sedang menjalani masa SMP dan SMA agar mereka sadar dan menyiapkan bekal dan menguatkan sayapnya untuk bersaing mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi setingkat Sarjana.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah, mengapa Pendidikan Sarjana?

Ketika mereka sudah lulus dan menjadi Sarjana, maka kesempatan akan terbuka lebih banyak, bekal ilmu, keterampilan, pengalaman akan menjadi modal dalam perjalanan hidup kedepannya. Beberapa orang tua yang saya temui, terutama mereka yang tinggal di desa mmemiliki anggapan bahwa kuliah itu mahal, butuh banyak biaya sehingga anak-anaknya tidak bisa kuliah karena ketakutan biaya tersebut. Gerakan Tunas Bangsa mengajak orang tua wali untuk sama-sama optimis memandang bahwa pendidikan itu tidak mahal. Artinya, banyak sekali kesempatan dan peluang yang bisa kita manfaatkan seperti beasiswa dan sekolah-sekolah kedinasan atau program-program lainnya. Namun, untuk mendapatkan beasiswa, tentunya butuh modal yang mumpuni agar bisa bersaing untuk mendapatkannya. Modal itulah yang harus mereka miliki dan pupuk mulai dari SMP sampai lulus SMA. Gerakan Tunas Bangsa hadir dan didedikasikan untuk membantu tunas-tunas bangsa menyiapkan modal agar mereka siap memasuki gerbang perguruan tinggi.

Perjalanan hidup yang saya alami selama ini, menginspirasi diri saya untuk berbuat sesuatu. Memanggil hati dan diri saya untuk ikut berkontribusi terhadap orang sekitar. Saya ingin tunas-tunas bangsa yang memiliki potensi bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bisa melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, optimis memandang masa depan, tidak mudah putus asa. Oleh karena itu, sosok mentor diperlukan sebagai sosok yang terus mendorong mereka untuk maju. Kebahagiaan saya dan relawan/donatur yang lain adalah ketika tunas-tunas bangsa ini bisa berhasil mencapai puncak potensi tertinggi yang mereka miliki. Apa yang saya dan relawan/donatur kontribusikan selama ini akan menjadi catatan kecil perjalanan hidup masing-masing. Sebuah catatan perjalanan hidup yang penuh makna dan arti tersendiri di hati ini.

 

Kudus, 22 April 2017

Salam Hangat,

Suhariyanto Putra

 

 

 

 

 

 

 

 



2 Responses to “Ini Bukan Tentang Saya. Ini Tentang Mereka, Tunas Bangsa Indonesia”

  1. Trenyuh saya membacanya Mas Suhar. Barakallah. Semoga Tunas Bangsa makin berkembang membimbing mutiara-mutiara negeri untuk Indonesia yang lebih baik. Proficiat.

    • suhariyantoputra says:

      Terima kasih Mas Agung atas perhatian dan support dan do’anya. Mas Agung bisa banget loh membantu Tunas Bangsa ini. Jadi donatur boleh. Berbagi ilmu boleh.

Leave a Reply