Gangguan Kepribadian : Perspektif Psikologi Islam

 

Sering kita mendengar istilah gangguan kepribadian, orang berkepribadian ganda. Terkadang kita sering mendengar orang memberikan label kepada orang lain bahwa tidak punya kepribadian. Lalu, apa sih sebenarnya gangguan kepribadian? Berdasarkan perspektif psikologi Islam, gangguan kepribadian adalah serangkaian perilaku manusia yang menyimpang dari fitrah asli yang murni, bersih dan suci, yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak zaman azali (Mujib, 2007). Gangguan tersebut dapat menyebabkan rusaknya jiwa sehingga jiwa menjadi kosong, hati akan mati, walaupun secara fisik terlihat gagah dan sehat. Individu yang mengalaminya akan mengalami kekosongan kalbu, gelisah, gersang, dan tidak dapat menikmati kehidupannya.

Dalam konsep islam istilah gangguan kepribadian ini sering diidentikkan dengan akhlak tercela, yaitu perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.  Dalam persepektif psikologi islam sendiri gangguan kepribadian diartikan sebagai perilaku yang berdosa dan merupakan penyakit hati yang dapat menggangu realisasi dan aktualisasi diri seseorang (Mujib, 2007). Dari pengertian tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa perilaku dikategorikan sebagai gangguan kepribadian Islam jika berbau dosa, jika tidak maka belum bisa dikatakan sebagai gangguan kepribadian dalam Islam. Gangguan kepribadian yang mengarah kepada perilaku buruk sering dikenal dengan istilah psikopatologi. Dalam konsep psikologi Islam sendiri, psikopatologi diakibatkan oleh kefitrian qalbu manusia hilang, karena qalbu menjadi pusat kepribadian manusia. Selain itu, psikopatologi bersumber dari dosa (guilty feeling) dan perilaku maksiat.  Dalam Islam psikopatologi ini dikenal dengan istilah penyakit hati. Antara dosa dan psikopatologi merupakan hubungan yang sangat dekat dan erat, karena dosa merupakan sumber dari psikopatologi. Dosa mengandung dua unsur psikopatologi, pertama adalah simptomatis (al-mas`alah al-maradhiy), yang mana individu merasa bimbang, resah, gelisah, konflik dan cemas dalam dirinya. Kedua, masalah penyesuaian diri (al-mas`alah al-tawafuq al-nafsî), yang mana individu merasa teralienasi (tanfir) dengan lingkungannya (al-bi`ah).

اَلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاس

Dosa adalah apa yang dapat  membimbangkan hatimu dan engkau merasa benci apabila perbuatan itu diketahui oleh orang lain.” (HR. Muslim dan Ahmad dari al-Nawas ibn Sim’an al-Anshari).

Menurut Mujib (2007), gangguan kepribadian (psikopatologi dalam Islam) menjadi dua kategori. Pertama, bersifat duniawi yaitu macam-macam gangguan kepribadian berupa gejala atau penyakit kejiwaan yang telah dikemukakan dalam psikologi kontemporer. Kedua, istilah ukhrawi, berupa penyakit akibat penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai moral, spiritual dan agama.

Seperti yang telah penulis paparkan bahwa sumber dari gangguan kepribadian merupakan perilaku dosa yang telah manusia perbuat oleh manusia. Perilaku dosa yang telah dilakukan oleh manusia dikarenakan oleh dua faktor utama yaitu faktor yang berasal dari dalam (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal).

Faktor internal sendiri terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, kalbu yang merupakan sentral kepribadian. Dalam hal ini kalbu tidak diaktualisasikan sebagaimana seharusnya. Sakitnya kalbu menjadikan batin seseorang yang berdosa mengalami rasa cemas, bersalah, malu dengan orang lain. Namun, jika seseorang tersebut bangga menceritakan dosa yang telah ia perbuat, maka hatinya mengalami kematian. Kedua, hawa nafsu yang berupa gadhah, yang memiliki unsur agresif dan binatang buas dan syahwah yang memiliki impuls seksual yang mendominasi keseluruhan system kepribadian seseorang. Ketiga, orientasi dan motivasi hidup yang materialism sehingga tiada ruang untuk mengembangkan aspek-aspek spiritual dan keruhanian.

Sedangkan untuk faktor eksternal terbagi menjadi dua yaitu godaan syetan dan makanan minuman yang haram. Godaan syetan membuat manusia menjadi pribadi yang malas dan selalu dipenuhi dengan angan-angan jahat dalam pikiran dan benaknya sehingga perilaku yang ditampilkan juga akhirnya perilaku yang dilarang oleh agama. Ternyata mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram dapat menyebabkan kemalasan beribadah, menyebabkan banyak menganggur dan juga tidur, mengurangi tafakur dan menyia-nyiakan waktu. Dalam hal ini Allah SWT pernah berfirman kepada nabi Dawud AS ; “Hai Dawud. Hindari dan peringatkan kepada kaummu dari makanan subhat, karena sesungguhnya hati orang yang memakan makanan syubhat itu tertutup dari-Ku”.

Dalam Islam sendiri gangguan kepribadian terbagi menjadi dua yaitu neurosis dan psikosis. Neurosis merupakan suatu penyakit mental yang belum begitu mengkhawatirkan, karena termasuk dalam kategori gangguan yang biasanya diakibatkan adanya gangguan syaraf maupun kelainan perilaku, sikap, dan aspek mental lainnya. Namun, gangguan ini juga bisa mengkhawatirkan ketika penderitanya menganggap enteng dan tidak berusaha mencari solusi dan terapinya. Sedangkan psikosis adalah suatu penyakit mental yang parah, dengan ciri khas adanya disorganisasi proses pikiran, gangguan dalam emosinalitas, disorientasi waktu, ruang dan person,adanya delusi, halusinasi dan ilusi. Halusinasi merupakan persepsi dari salah satu panca indera tanpa disertai rangsangan, sedangkan delusi merupakan perasaan kepercayaan atau keyakinan yang keliru, yang tidak dapat berubah dengan penalaran dengan jalan penyajian fakta.

Pada dasarnya psikopatologi (gangguan kepribadian) dalam Islam banyak sekali tokoh yang mencoba mengklasifikasikannya. Menurut Al-Qur’an dan Al-Sunnah, jenis psikopatologi dibagi menjadi tiga bagian utama. Pertama, gangguan kepribadian yang berhubungan dengan akidah atau dengan Tuhan, seperti menyekutukan Allah (syirik), mengingkari, berbuat dosa, bermuka dua, pamer, dan menuruti bisikan syetan. Kedua, gangguan kepribadian yang berhubungan dengan kemanusiaan seperti iri hati, dengki, buruk sangka, marah, benci, penakut, pelit, menipu, mengolok-olok, menyakiti, memfitnah, menceritakan keburukan orang lain, rakus, adu domba, putus asa, menganiaya, boros dan materialism. Ketiga, gangguan kepribadian yang berkaitan dengan pemanfaatan alam semesta sebagai realisasi tugas-tugas kekhilafan seperti membuat kerusakan.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa semua perilaku yang mengandung dosa, baik kecil maupun besar, semuanya tergolong dalam kategori gangguan kepribadian. Oleh karena itu, marilah kita jaga perilaku kita dari hal-hal yang mengandung dosa agar senantiasa mendatangkan manfaat bagi sesama dan pahala bagi diri sebagai bekal menghadapi kehidupan yang kekal nanti.